Wahai BEM, Malu Kita Sama Pendiri Bangsa

PARA pimpinan BEM mestinya baca buku pergerakan mahasiswa kita di zaman penjajahan dulu yang dimotori oleh Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia periode 1926-1942.


Di situ tergambar jelas bagaimana anak anak muda usia 22-23 tahun, sudah memikirkan masa depan bangsanya. Bukan memikirkan ambisi pribadinya saja.

Contoh dong keteladanan Sugondo Djojopuspito, Oesman Sastroamidjojo, Muhammad Yamin, Aboe Hanifah, Mohammad Tabrani, Abdullah Sigit, Gularso, Darwis, Soewirjo, Kuncoro dan Amir Sjarifuddin. Sementara mentor mereka yang muda-muda ini aja, seperti Bung Karno, masih sekitaran 25 atau 26 tahun.

Dalam berbagai diskusi dan rapat pergerakan, mereka bersepakat tidak sekadar mengejar ijazah, tapi juga ikut memikirkan soal-soal yang menyangkut kehidupan masyarakat.

Masak BEM se Indonesia kalah sama anak muda dari Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen, yang akhirnya berhimpun dalam Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia(PPPI) , yang kelak jadi cikal bakal lahirnya Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

Makanya BEM Se-Indonesia, harus banyak baca sejarah. Dan berendah hati untuk menyerap ilmu dari para senior supaya dalam menyusun gerakan lebih inspiratif. Jangan cuma mikir fulus, fulus dan fulus.

Malu tahu, sama para leluhur kita dan founding fathers kita dulu.

Oleh Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute