Puskappi Cium Aroma Pilpres Di Balik Pencopotan Nana Sudjana Dan Rudy Sufahriadi

Irjen Rudy Sufahriadi dan Irjen Nana Sudjana/Net
Irjen Rudy Sufahriadi dan Irjen Nana Sudjana/Net

Pasca kerumunan massa saat acara yang dihadiri Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab (HRS) di kawasan Petamburan, Jakarta Pusat dan Megamendung, Bogor, berimbas mutasi besar-besaran di tubuh Polri.


Kapolri Jenderal Idham Azis mencopot Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana dan Kapolda Jawa Barat Irjen Rudy Sufahriadi karena tidak melaksanakan perintah dalam menegakkan protokol kesehatan.

Jabatan Kapolda Metro Jaya kemudian dipercayakan pada Irjen Fadil Imran yang sebelumnya menjabat Kapolda Jatim. Sedangkan Kapolda Jawa Barat diserahkan kepada Irjen Ahmad Dofiri.

Hal itu tercantum dalam Surat Telegram (ST) bernomor ST/3236/XI/KEP/2020 tanggal 16 November 2020.

Bukan cuma itu, Kapolri Jenderal Polisi Idham Azis juga menggeser jabatan Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Polisi Heru Novianto dan Kapolres Bogor AKBP Roland Ronaldy.

Direktur Eksekutif Pusat Kajian Kebijakan Publik Pemerintah Indonesia (Puskappi) Maizal Alfian menyayangkan pencopotan jabatan Nana Sudjana dan Rudy Sufahriadi.

"Karena selama ini kedua jenderal tersebut memiliki prestasi dan karir yang sangat bagus," kata Maizal melalui keterangan tertulis, Minggu (22/11).

Maizal berpandangan, ada aroma Pilpres 2024 di balik pencopotan jabatan Nana Sudjana dan Rudy Sufahriadi.

"Wilayah Polda Metro Jaya dan Polda Jabar adalah kunci karena memiliki wilayah yang strategis," kata Maizal.

Selain itu, menurut Maizal, pencopotan jabatan Nana Sudjana dan Rudy Sufahriadi sebagai salah satu cara pembersihan orang-orang Mendagri Tito Karnavian yang memiliki kans menjadi calon RI-1 di Pilpres 2024.

Irjen Nana Sudjana lahir di Cirebon, Jawa Barat pada 26 Maret 1965. Nana pernah menjabat sebagai Dirintelkam Polda Jatim pada 2014.


Pada 2015, Nana menjabat sebagai Wakapolda Jambi, lalu tahun 2016 menjabat sebagai Wakapolda Jawa Barat.

 Setelah itu di tahun yang sama menjabat sebagai Dirpolitik Baintelkam Polri saat Tito Karnavian menjabat Kapolri.

Pada 2019, Nana kembali dipromosikan menjadi Kapolda NTB dan akhirnya menjadi Kapolda Metro Jaya berdasarkan Surat Telegram Nomor ST/3331/XII/KEP/2019, pada 20 Desember 2019.

Nana pun sempat disebut-sebut menjadi salah satu calon Kapolri menggantikan Jenderal Idham Azis yang akan pensiun pada Januari 2021.

Sedangkan Irjen Rudy Sufahriadi, lahir di Cimahi, Jawa Barat, 23 Agustus 1965 pernah bergabung dalam satuan elit pemberantas teroris, Densus 88. Ia pun sempat bertugas di Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Pada 2005, Rudy Sufahriadi ditunjuk menjadi Kapolres Poso, Sulawesi Tengah. Ia juga sempat menjadi Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya pada 2007.

Rudy kemudian menjadi Kepala Densus 88 Anti-Teror Polda Metro Jaya pada 2007. Selanjutnya Rudy diangkat menjadi Kapolres Metro Jakarta Utara pada 2009.

Rudy menjadi perwira menengah Densus 88 Anti-Teror Polri pada 2010. Lalu, Rudy menjadi Direktur Pembinaan Kemampuan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada 2010 sampai 2016.

Pada 2016 sampai 2018, Rudy menduduki jabatan sebagai Kapolda Sulawesi Tengah. Setelah itu, ia diangkat menjadi Kepala Korps Brimob Polri pada 2018 pada era Tito Karnavian sebagai Kapolri.

Tahun 2019, Rudy diangkat menjadi Asisten Operasi Kapolri. Setelah itu, Rudy resmi menjabat menjadi Kapolda Jawa Barat pada 26 April 2019.


"Maka dapat disimpulkan bahwa Nana dan Rudy mempunyai kedekatan dengan Mendagri Tito Karnavian," kata Maizal.

"Saat ini ada upaya pembersihan kelompok Tito Karnavian. Apalagi dengan jabatan baru Nana sebagai Korsahli Polri dan jabatan baru Rudy sebagai Widyaiswara Kepolisian Utama Tingkat I Sespim Lemdiklat Polri yang sangat tidak prestisius," pungkas Maizal. []