6 Ribu Terduga Teroris Diduga Masih Berkeliaran, Mayoritas Milenial

Detasemen Khusus 88 Anteror Polri/Ist
Detasemen Khusus 88 Anteror Polri/Ist

Semua lapisan masyarakat untuk lebih mewaspadai ancaman terorisme yang bisa terjadi tanpa dapat diduga.


Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPP GAMKI) mengapresiasi serangkaian penangkapan terduga pelaku terorisme di berbagai wilayah di Indonesia.

Ketua DPP GAMKI Bidang Pancasila dan Penanggulangan Radikalisme, Broery Pater Tjaja mengatakan, data yang diterimanya dalam kurun waktu dua bulan terakhir, sedikitnya terdapat sebanyak 29 terduga teroris yang ditangkap.

Terduga pelaku terorisme itu ditangkap di beberapa wilayah di Indonesia, antara lain Bogor, Merauke, Riau, Tasikmalaya, dan Pangandaran.

Kata Broery, berdasar informasi yang dihimpun, terduga teroris tersebut terafiliasi dengan jaringan Jamaah Anshorut Daulah (JAD) dan Jaamah Islamiyah (JI).

Broery menyampaikan, selain jaringan JAD dan JI, terdapat juga jaringan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso yang telah melakukan beberapa aksi teror, hingga yang terakhir adalah peristiwa pembunuhan terhadap dua warga sipil pada 11 Mei lalu.

Kemudian terdapat juga beberapa aksi teror lone wolf seperti yang terjadi di Gereja Katedral, Makassar dan Mabes Polri. 

"Data-data ini memperlihatkan bahwa aktivitas kelompok teroris JAD, JI dan MIT, ditambah lone wolf, masih terus beroperasi di beberapa wilayah di Indonesia," jelas Broery.

Menurut Broery, sebelumnya beberapa instansi pemerintah juga telah mempublikasikan data terkait keberadaan jaringan teroris di Indonesia.

Dari informasi yang GAMKI dapatkan pada akhir 2020 lalu, masih terdapat sekitar 6.000 terduga teroris di Indonesia yang tergabung dalam jaringan JI, dimana mayoritasnya merupakan kelompok milenial.

"Masyarakat tidak boleh lengah dan harus meningkatkan langkah pencegahan melalui pendidikan Pancasila dan moderasi beragama kepada generasi muda," demikian Broery dikutip dari Kantor Berita Politik RMOL. []