Agama dan Bhineka Tunggal Ika

FENOMENA kehidupan berbangsa dan bernegara akhir-akhir ini sungguh telah terusik dan diusik oleh ucapan serta tindakan segelintir elit politik.


Karena dipicu oleh kasus demi kasus yang muncul ditengah-tengah Masyarakat.

Para Penguasa dan yang mengendalikannya merasa merekalah yang 'paling benar' memimpin bangsa ini.

Mereka merasa bahwa merekalah yang 'paling suci'untuk menghakimi rakyatnya yang sedang resah dan gelisah akibat segala kebijakannya.

Berawal dari kasus Penistaan Agama yg dilakukan oleh Ahok juga dikenal sebagai pejabat tanpa etika namun sangat dekat dengan penguasa.

Indonesia sejak itu dirundung berbagai masalah. Mulai dari masalah yang sesungguhnya (penistaan Agama tsb), keluarnya PP no.58 2016, membanjirnya tenaga kerja asing (TKA), ilegal dan gesekan politik Pilkada DKI yang melahirkan problem baru dengan sebutan 'Perang Opini'.

Pembentukan opini saling mengkritisi antara satu dngn yang lainnya berujung pada hujat menghujat di media sosial yang pada akhirnya benturan fisik antara kader PDIP vs Pengurus FPI tak terelakkan.

Kemudian, disusul isu kasus pemecatan Dandim Lebak, Banten dan lain sebagainya adalah kasus yang sadar atau tidak, mereka dan mungkin kita adalah korban dari perang opini tersebut.

Duka yang menyelimuti negeri tercinta ini bukan hanya karena bencana alam semata, tetapi lebih dari itu Indonesia berada pada titik kehilangan nasionalisme dan mengalami krisis akal sehat.

Megawati Soekarno Putri yang kita semua tahu dia adalah Putri sang Proklamator secara 'Biologis Saja' telah mengkotakkan antara Agama dan Bhineka Tunggal Ika.

Sungguh sebuah pemikiran yang sangat sempit jika penganut Agama tertentu yang meyakini Agamanya lantas dihakimi sebagai Warga negara yang tidak Bhineka Tunggal Ika.

Karena sesungghnya Agama yang 'sedang dihakiminya' mengajarkan Welas asih kepada seluruh ummat manusia dimuka Bumi ini.

Sisi lain, jika ada pemeluk Agama tertentu yang merasa merekalah 'Pemilik Syurga' dan yang menganut Pancasila dianggap 'pasti masuk Neraka' pun mereka adalah kelompok yang sangat dangkal dalam melihat Agama sebagai Rahmatan LillAlamiin dan hal yang paling mungkin untuk kita lakukan saat ini adalah, saling menahan diri untuk tidak saling menghakimi.

Penguasa meningkatkan daya peka terhadap Kegelisahan rakyatnya.

STOP GERAKAN TEBAR PESONA RI 1
GENCATAN SENJATA PERANG IT.

Rekonsiliasi Akbar yang melibatkan semua unsur baik yang Kanan maupun yang Kiri tanpa terkecuali.

Jika ini dapat dilakukan dngn baik dan mengubur dalam-dalam egoisme individu dan egoisme kultural serta primordialisme komunitasnya masing- Masing, maka Indonesia 'Mimfadli Robbi' akan mampu keluar dari segala problem yang kita hadapi saat ini.

Wallahua'lam...

Salam Indonesia Satu...[***]

MUHAMMAD HUSNI MUBAROK

PEnggagas Gerakan Indoensia Satu (GIS)