Aliansi Korban Wanaartha Life Desak Presiden Jokowi Selesaikan Kasus WAL

Aliansi Korban Asuransi Wanaartha Life menggelar demonstrasi di kawasan Monas, Jakarta Pusat/Ist
Aliansi Korban Asuransi Wanaartha Life menggelar demonstrasi di kawasan Monas, Jakarta Pusat/Ist

Para korban kasus PT Asuransi Jiwa Adisarana Wanaartha (Wanaartha Life) atau PT WAL yang mewakili 29 ribu pemegang polis (PP) asuransi meminta Presiden Joko Widodo turun tangan  untuk mendapatkan jalan keluar paska Mahkamah Agung (MA) memutuskan aset PT WAL sebesar Rp2,4 triliun terkait kasus korupsi dan pencucian uang di PT Asuransi Jiwasraya sah dirampas untuk negara.


Sebelumnya, terkait kasus Wanaartha adalah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menolak permohonan kepailitan dan melarang jajaran Direksi PT WAL mengundurkan diri.

Dalam koferensi pers rapat Dewan Komisioner (DK) OJK yang dilakukan secara daring pada Kamis (3/11), OJK yang dipimpin Mahendra Siregar  memutuskan telah menolak permohonan kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) kepada perusahaan asuransi jiwa PT WAL, di mana permohonan ini diajukan oleh pemegang polis.

Juru bicara  media Aliansi Korban Asuransi WanaArtha, Christian meminta perhatian khusus Presiden Joko Widodo atas kasus yang berkepanjangan ini bisa cepat diselesaikan dan dituntaskan.

"Dalam kasus asuransi WanaArtha itu sangat janggal dan kusut karena ada dugaan penggelapan yang dilakukan oleh pemilik asuransi Wanaartha yang justru sangat merugikan ribuan pemegang polis yang mayoritas berusia lanjut usia," kata Christian dalam keterangannya, Selasa (22/11).

Ia mempertanyakan fungsi OJK yang dibentuk lewat undang-undang dalam hal pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan, dalam hal ini asuransi.

"Karena begitu banyak perusahaan asuransi yang bermasalah, mulai dari Jiwasraya, Asabri, Bumiputera, Wanaartha Life, Kresna Life, yang kesemuanya sejatinya adalah produk legal dan telah disetujui, dan dijamin oleh OJK," kata Christian.

Christian menyayangkan jika masalah Wanaartha Life tidak terselesaikan secara tuntas akan merontokkan kepercayaan kepada investasi di Indonesia. 

"Jangan sampai investasi yang telah dirintis, dikelola, dan dikawal melalui kepemimpinan Pak Jokowi dengan lahirnya kebijakan dan undang-undang dibuat bersama parlemen di Indonesia ini menjadi tercoreng dan luntur karena tindakan dari oknum-oknum yang menjadi bagian dari mafia asuransi," kata Christian.

Christian menambahkan, asuransi Wanaartha telah merugikan sekitar 29.000 pemegang polis hingga Rp 15 triliun.

"Nasib nasabah pemegang polis asuransi Wanaartha semakin tidak jelas dan sepertinya pihak manajemen seolah-olah sudah menyerah untuk membayarkan kewajiban polis asuransi 29.000 nasabahnya," demikian Christian. []