Anies Baswedan Dianggap Cocok Komandani Nasdem Jakarta

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Ketua Umum Partai Nasdem Surya  Paloh/Net
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh/Net

Kursi ketua DPW Partai Nasdem DKI Jakarta yang beberapa pekan ini kosong sepatutnya segera diisi kembali agar roda parpol terus bergulir.


Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dianggap tepat untuk menduduki jabatan ketua DPW Partai Nasdem DKI yang lowong pasca Hasan Aminuddin dicokok penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama istrinya, Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari.

“Ada beberapa alasan historis yang membuat Anies cocok menduduki jabatan itu,” kata pengamat kebijakan publik Amir Hamzah kepada wartawan, Selasa (14/9).

Alasan pertama, menurut Amir, adalah karena Anies merupakan salah satu deklarator ormas Nasdem sebelum bertransformasi manjadi partai politik.

Kedua, Anies merupakan orang dari jaringan mantan Wapres Jusuf Kalla, dan Jusuf Kalla juga merupakan salah satu deklarator ormas Nasdem.

Ketiga, Anies memiliki hubungan yang sangat baik dengan pendiri yang juga Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh.

“Bahkan oleh Surya Paloh, Anies sudah anggap seperti adiknya,” kata Amir.

Amir berpandangan, jika Anies menjadi ketua DPW Nasdem DKI Jakarta, ada keuntungan yang didapat kedua belah pihak.

Pertama, perolehan suara Nasdem bisa jadi akan terdongkrak pada Pemilu 2024. Karena selain memiliki elektabilitas yang layak diperhitungkan berdasarkan beberapa hasil survei.

Bukan cuma itu, lanjut Amir, Anies juga memiliki pendukung dan simpatisan yang sangat banyak, dari Sabang hingga Merauke, terutama dari kalangan umat Islam yang beroposisi dengan pemerintahan Joko Widodo.

Sementara Anies, kata Amir, akan lebih mudah mencalonkan diri menjadi Capres 2024 karena sudah ada partai yang secara nyata dapat mengusungnya.

Seperti diketahui, dari hasil jajak pendapat yang dilakukan sejumlah lembaga survei, di antaranya Indonesia Political Opinion (IPO), elektabilitas Anies selalu masuk tiga besar, bersaing dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).[]