Bacokan Buat Mantan Pacar

Ilustrasi/Net
Ilustrasi/Net

ANIAYA motif asmara tidak selalu dilakukan pria terhadap wanita. Pemuda EYW (28) dibacok orang suruhan eks pacarnya, AB (21) di Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Untung, EYW tidak mati.

Cantikkah AB, sehingga punya dua mantan, dan bisa mengerahkan tiga pemuda membacok EYW? Jawabnya: Relatif. Tinggi badan AB sekitar 155 Cm, berat sekitar 60 Kg, kulit coklat, jidat nonong, mata galak, hidung dan bibir selalu tertutup masker.

Ditilik dari usia para pelaku, memprihatinkan. Mereka remaja baru gede. Motifnya sepele. Tapi mereka merencanakan pembunuhan, yang korbannya tidak mati.

Kanit Resmob, Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Kompol Maulana Mukarom kepada pers, Jumat, 23 September 2022, menceritakan kronologi.

Hubungan para pelaku terhadap korban: AB mantannya EYW. AB sakit hati pada EYW. Eksekutor pembacok, AMK mantannya AB, juga punya dendam pada EYW. Sedangkan pelaku MHF dan NPA membantu, ikut menganiaya EYW.

Jadi, EYW dikeroyok pria: AMK dan MHF. Joki motornya NPA. Perancang aniaya itu AB.

Kamis, 4 Agustus 2022. AB menelepon EYW ngajak ketemuan. EYW setuju. Disepakati ketemu di suatu tempat, di Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Sebelum EYW tiba di titik temu, AB mengatur: Tiga pria kenalannya, AMK, MHF dan NPA, ngumpet di sekitar TKP.

EYW datang sendirian. Tiba di TKP, langsung diserbu AMK berpisau, MHF menghajar EYW dengan tangan kosong. Dalam sekejap EYW luka parah.

Kompol Maulana: "Luka korban, parah. Terutama yang dibacok di kepala. Batok kepala hampir terbelah. Dan luka-luka kecil di badan."

Korban tumbang berdarah-darah. Para pelaku kabur. Pelaku mengira, korban sudah tewas. Tapi, setelah dilarikan ke rumah sakit, EYW bisa diselamatkan. Sampai ini ditulis, EYW masih dirawat di RS.

Polisi menyidik kasus ini cukup lama. Akhirnya, AB ditangkap polisi pada Kamis, 22 September 2022. Atau sebulan lebih dari saat kejadian. Berikutnya ditangkap para pelaku lainnya.

Maulana: "Hasil penyidikan dari pelaku, tidak ada iming-iming uang (bayaran) dari AB. Motifnya dendam lama, terkait cinta segi tiga. Tapi, masih terus kami dalami lagi."

Cinta segi tiga, berakhir kejam. Topik yang lazim. Dan mengerikan. Tapi, mengapa sampai segitu benci? Bukankah, dulu mereka saling cinta?

Soal ini ada risetnya. Riset dilakukan dosen dan mahasiswa Normal University (berdiri 1933), Guangzhou, China, pada 2017.

Dr Yanhui Xiang, asisten profesor psikologi, dan dua mahasiswanya, Wang Jin dan Mo Lei, dalam karya mereka bertajuk, "The Deeper the Love, the Deeper the Hate". Dipublikasi di jurnal ilmiah kampus itu pada 7 Desember 2017.

Jumlah responden 60, mahasiswa-mahasiswi universitas tersebut. Satu responden dikeluarkan, karena kurang memahami instruksi periset.

59 responden (30 laki-laki, 29 perempuan) usia rata-rata 20.

Rincian responden: 18 persen mengatakan, mereka mencari hubungan (pacar). 33 persen sedang menjalin hubungan. 24 persen pernah putus cinta. 25 persen tidak pernah menjalin hubungan.

Kepada mereka diberi simulasi, memilih pacar, tahap selanjutnya seolah berpacaran. Riset selama kurun waktu tertentu. Hasilnya, begini:

1) Perasaan cinta dipengaruhi kesamaan antar dua individu yang bercinta.

Artinya, individu responden yang secara eksperimental dibujuk untuk mengalami perasaan cinta, merasakan cinta yang lebih kuat terhadap seseorang dari lawan jenis, yang mirip dengan mereka.

Kesamaan menyangkut status sosial, hobi, bidang studi, makanan kesukaan, cara berpikir, tingkat kecerdasan.

Sampai batas tertentu, mereka menganggap "kesamaan", faktor penting yang berkaitan dengan kepuasan hubungan. Anggapan itu terbukti akurat.

Individu yang mirip satu sama lain, dengan mudah membentuk kesan yang baik satu sama lain dalam waktu singkat.

2) Hubungan kausalitas antara cinta romantis dengan kebencian, jika hubungan mereka putus.

Ketika hubungan cinta antar dua individu (berbeda jenis kelamin) putus, akibat pengkhianatan, maka otomatis menimbulkan kebencian. Baik terhadap individu yang dikhianati, maupun pengkhianatnya.

Semakin dalam cinta (diukur dari kurun waktu berpacaran), maka semakin dalam benci. Semakin dangkal cinta, semakin dangkal benci.

Di sini peneliti mengutip Prof C. Fred Alford dalam bukunya “Hate is the imitation of love” (2005). Buku ini best seller di Amerika. Mungkin pembelinya orang-orang 'korban cinta'. Karena isinya melow banget.

Peneliti lalu memasukkan konsep "Persepsi Ekuitas". Berdasarkan teori ekuitas, bahwa ekuitas dapat dicapai dengan mengubah persepsi seseorang tentang investasi dalam hubungan, berbanding hasilnya.

Menurut teori ekuitas, nilai suatu ekuitas dihitung dari input individu dan dampak yang dihasilkan.

Gampangnya begini: Semakin banyak seseorang berkorban terhadap pasangannya (traktir makan, belikan baju, belikan motor, mobil, rumah) otomatis orang itu berharap imbalan kasih sayang yang kurang-lebih sebanding dari pasangan. Ini kodrati manusia.

Pada riset tersebut, dirinci nilai ekuitas. Dirinci pula tingkat kebencian. Berbentuk kualitas dan kuantitas. Hasilnya terbukti sebanding, antara tingkat ekuitas dengan kadar benci. Detilnya panjang dan rumit. Karena dilengkapi argumentasi tingkat pembobotan.

Dalam bahasa sehari-hari: "Gue udah habis banyak, ee... die berkhianat. Dasar..."

Jika hubungan asmara mereka putus akibat pengkhianatan, dan pengkhianatnya adalah orang yang selama ini banyak menerima pemberian, maka tingkat kebencian si pemberi naik, dibanding tingkat kebencian si penerima.

Jadi, semakin tinggi cinta seseorang terhadap pasangannya, semakin banyak investasi psikologis yang ia tanamkan.

Ketika hubungan itu putus, akibat apa pun. Maka, masing-masing individu langsung mengkalkulasi. Hitung-hitungan. Apa saja yang sudah ia berikan. Semakin banyak memberi, semakin nyesek.

Sebaliknya, individu yang selama hubungan banyak menerima pemberian, juga benci. Juga dendam. Tapi level kebenciannya lebih rendah dibanding individu pemberi.

Memang, kebencian bakal surut. Saat seseorang mengikhlaskannya. Proses surut ditentukan oleh: Tingkat keimanan (agama), juga oleh waktu, kedewasaan, kesibukan, dan tentu saja seperti lagu Didi Kempot: "Pamer Bojo" anyar.

Di kasus tragedi Pesanggrahan, tidak diungkap, sedalam apa cinta AB terhadap korban EYW? Berapa nilai "Persepsi Ekuitas"?

Juga, mengapa AMK membacok EYW sampai begitu parah, padahal tidak ada bayaran? Juga, AMK toh mantan pacar AB, mengapa ia mau disuruh AB bertindak yang mengarah pembunuhan?

Kasus itu cuma contoh kecil dari 'anak-anak kecil'. Tapi bisa juga menimpa 'orang-orang besar', dengan eskalasi heboh nasional. Internasional.

Karena, cinta asmara punya kenikmatan, sekaligus kepahitan. Seperti bunyi sajak Kahlil Gibran:

Apabila cinta memanggilmu, ikutilah dia. Walau jalannya berliku-liku.

Dan apabila sayapnya merangkummu, pasrahlah serta menyerah. Walau pedang tersembunyi di sela sayap itu, melukaimu. []

Penulis adalah wartawan senior