Baliho Tidak Tahu Malu, Tidak Tahu Diri

Adian Radiatus/Ist
Adian Radiatus/Ist

SEPERTINYA di balik upaya keras melestarikan posisi Joko Widodo alias Jokowi di pucuk kekuasaan negeri ini, di belakangnya patut diduga ada semacam geng 'preman berdasi' yang tidak lagi memandang pentingnya menjaga martabat dan kehormatan Jokowi itu sendiri. 

Setelah gagal melalui wacana tiga periode, bahkan ditebas oleh partai utama pendukungnya dan kemudian upaya perpanjangan dengan menunda Pemilu yang juga kandas dihantam penolakan berbagai elemen dan partai serta DPR. 

Sekarang muncul strategi 'warung kopi' yang sebenarnya sangat merendahkan integritas politik Jokowi, yaitu dipasangkan sebagai cawapresnya Prabowo Subianto.

Jangankan para ahli hukum tata negara, publik waras pun mahfum betapa kemunculan baliho-baliho itu dapat mempersepsikan kehausan kekuasaan Jokowi akibat ulah norak geng berdasi itu dibaliknya yang sangat meremehkan, disamping memalukan yang menampilkan pasangan Prabowo-Jokowi untuk kontestasi 2024 nanti. 

Mengapa bisa muncul baliho tanpa izin atau sepengetahuan lebih dahulu  oleh khususnya pihak Prabowo. Kalau pihak yang mengaku pendukung Jokowi ya jelaslah kita tahu moralitasnya sebatas 'nasi bungkus'. 

Namun dari semua ulah di belakang Jokowi itu, tampaknya yang menjadi kunci permasalahan jenis politik rendahan ini adalah terletak pada diri Jokowi sendiri. 

Bila Jokowi mengaku sudah jelas menolak tiga periode termasuk tentunya menjadi cawapres yang meremehkan integritasnya itu, namun bersikap pembiaran atas nama suara demokrasi, maka itu dapat dirasa sebagai bentuk kemunafikan akut.

Bagaimanapun di balik baliho itu Jokowi tidak dinyana demikian lemahnya seakan bisa dijadikan bulan-bulanan oleh kelompok liar di belakangnya bila benar tak tahu menahu atau memang bukan atas seizinnya. 

Mana boleh seorang pemimpin bangsa besar boleh diperlakukan demikian rendahnya hingga baliho-baliho itu kemudian diturunkan, dirobek dan dicampakan. 

Jokowi harus memulihkan kredibiltasnya terhadap sikap demokrasi cukup dua periode (kalau bisa) tanpa harus kesulitan menangani mereka yang liar dibelakangnya dengan melaporkan kepada aparat Polisi untuk ditindak mereka yang memanipulatif namanya lewat baliho-baliho itu. 

Beruntung pihak Gerindra sudah menyampaikan dan memproses pelaporan atas perbuatan tidak menyenangkan itu. Kita tunggu dan berharap tidak lagi muncul atribut-atribut atau baliho yang 'tidak tahu malu dan tidak tahu diri itu'. []

Penulis adalah pemerhati sosial politik