Bangun MRT Sarinah-Stasiun Kota Butuh Dana Rp 22,5 Triliun

RMOL.Setelah rampung pengerjaan fase I, PT MRT Jakarta akan segera melaksanakan proyek moda transportasi mass rapid transit (MRT) fase II.


Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta, Silvia Halim mengatakan, pengerjaan mass MRT fase II lebih mahal dibandingkan fase I, meski rute fase I lebih panjang daripada fase II.

Fase I yang dibangun sepanjang 16 kilometer menelan Rp 16 triliun, sedangkan fase II sepanjang 8 kilometer dengan biaya Rp 22,5 triliun.

Hal itu dikarenakan seluruh lintasan dengan tujuh stasiun berada di bawah tanah. Ketujuh stasiun itu adalah Stasiun Sarinah, Stasiun Monas, Stasiun Harmoni, Stasiun Sawah Besar, Stasiun Mangga Besar, Stasiun Glodok, dan Stasiun Kota. Tidak hanya itu, pembangunan stasiun bawah tanah ini akan dilakukan di bawah anak Sungai Ciliwung.

"Pembangunan konstruksi fase II ini, makin ke arah utara, makin berat tantangannya. Selain kondisi jalan yang sempit, kita harus bangun di bawah anak Sungai Ciliwung. Tanahnya kurang bagus karena makin dekat ke laut. Kemudian juga ada kali,” kata Silvia, Senin (17/9).

Silvia menerangkan, kondisi Jalan Gajah Mada lebih sempit dibanding Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan MH Thamrin. Kondisi membuat pembangunan konstruksinya lebih sulit. Jika di sepanjang Sudirman-Thamrin stasiun dan rel MRT berada tepat di tengah, maka di sepanjang Jalan Gajah Mada, stasiun akan terletak di sisi barat. Hal itu karena ada Sungai Ciliwung yang berada di tengah. Karena keterbatasan lahan pula, penggalian terowongan juga akan lebih dalam, sekitar 20 meter. Fase 1 hanya sekitar 15 meter.

Saat ini, pihaknya sedang menyusun basic engineering design (BED) untuk ditawarkan ke Pemerintah Jepang yang rencananya kembali berinvestasi di proyek MRT. Pihaknya, juga tengah mendekati para pemilik lahan di sepanjang Jalan Gajah Mada yang lahannya akan digunakan sebagai akses masuk serta titik proyek.(dod)