Bea Cukai Bandara Soetta Gagalkan Penyelundupan Sabu Asal Malaysia

Penyelundupan sabu dari Malaysia di Bandara Soekarno-Hatta/RMOLBanten
Penyelundupan sabu dari Malaysia di Bandara Soekarno-Hatta/RMOLBanten

Petugas Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta menggagalkan upaya penyelundupan narkoba jenis sabu ke wilayah Indonesia.


Kepala Kantor Bea Cukai Tipe C Bandara Soekarno-Hatta, Finari Manan mengatakan, sabu yang berhasil diamankan sebesar 3.050 gram atau 3,05 kilogram. 

Pencegahan tersebut, kata Finari, berhasil dilakukan saat pelaku melewati pemeriksaan X-Ray bagasi di Terminal 3.

"Pelaku berinisial MF berusia 21 tahun, pengakuannya dijanjikan Rp 45 juta dalam pengiriman tersebut," katanya dikutip dari Kantor Berita RMOLBanten, Selasa (2/3). 

Finari menjelaskan, berdasarkan hasil pencitraan X-Ray yang dilakukan, diketahui terdapat benda mencurigakan di dalam benda bawaan penumpang MF tersebut.

Setelah diperiksa, terdapat tiga buah kapasitor mobil dan satu buah stop kontak dalam tas tersebut. 

Petugas, imbuh Finari, lantas memeriksa lebih lanjut kapasitor mobil yang ditemukan itu. 

"Petugas  kami menemukan bungkusan krital bening di masing-masing barang elektronik tersebut," tandasnya. 

Kemudian, pihak Bea Cukai Bandara lantas menyerahkan kasus ini kepada Bareskrim Polri untuk dilakukan pengembangan. 

Benar saja, setelah ditelusuri rupanya upaya penyelundupan ini akan diterima oleh dua orang yang berada di Surabaya, Jawa Timur. 

"Di Surabaya terdapat dua tersangka lagi yakni MK (20) dan MKA (27), ada total 3 tersangka untuk pengungkapan ini," jelasnya.

Sementara itu, Kasubdit II Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Mabes Polri, Kombes  Muhamad Anwar mengungkapkan, dari hasil interogasi, diketahui para pelaku ini mendapatkan barang haram tersebut dari Malaysia yang akan disebarkan ke wilayah Madura, Indonesia.

"Sayangnya, bandar yang ada di Malaysia masih berstatus DPO (daftar pencarian orang) karena kabur setelah kurirnya ini ditangkap," jelasnya.

Berdasarkan UU 35/2009 tentang Narkotika, para pelaku diancam dengan hukuman pidana mati, pidana seumur hidup, atau pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda maksimum Rp 10 miliar ditambah 1/3 dalam hal barang bukti melebihi 1 kilogram. []