Dituding Terlibat "Kudeta" Demokrat, Moeldoko: Ini Urusan Saya, Jangan Ganggu Presiden!

Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Moeldoko/Net
Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Moeldoko/Net

Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal (Purn) Moeldoko disebut-sebut terlibat dalam gerakan politik yang ingin mengambilalih secara paksa kepemimpinan Partai Demokrat. 


Kepala Badan Komunikasi Strategis DPP Partai Demokrat, Herzaky Mahendra Putra menyebutkan, pemeriksaan yang dilakukan pihaknya menyebut bahwa sosok lingkaran Istana yang terlibat upaya kudeta adalah KSP Moeldoko.

"Berdasarkan pengakuan, kesaksian dari BAP sejumlah pimpinan tingkat pusat maupun daerah Partai Demokrat yang kami dapatkan, mereka dipertemukan langsung dengan KSP Moeldoko," ujar Herzaky, Senin (1/2).  

Tak butuh waktu lama, Moeldoko pun muncul ke publik untuk meluruskan tudingan tersebut. Moeldoko mengaku prihatin atas polemik yang terjadi di internal Demokrat. 

"Saya sih sebetulnya prihatin melihat situasi ini. Karena saya juga bagian yang mencintai Demokrat," ujarnya seperti dikutip dari Kantor Berita Politik RMOL, Senin. 

Moeldoko menjelaskan, dirinya terbuka kepada siapapun yang ingin bertemu. Keterbukaan itu juga ia terapkan kepada sekelompok orang dari berbagai daerah yang menemuinya. 

"Mereka datang berbondong-bondong, ya saya terima. Konteksnya apa saya juga gak ngerti. Dari ngobrol-ngobrol itu biasanya saya awali dari pertanian, karena saya memang suka pertanian. Berikutnya curhat tentang situasi yang dihadapi, ya gue dengerin aja, gitu. Berikutnya ya udah dengerin aja," tandas mantan Panglima TNI itu. 

Moeldoko menegaskan, apa yang terjadi itu tidak ada kaitannya sama sekali dengan Istana terlebih Presiden Joko Widodo. 

Untuk itu, Moeldoko meminta pihak Demokrat untuk tidak menuding Istana sebagai dalang upaya kudeta yang terjadi di Demokrat. 

"Jangan dikit-dikit Istana dalam hal ini ya. Saya ingatkan jangan dikit-dikit Istana. Dan jangan ganggu Pak Jokowi dalam hal ini," katanya. 

"Ini urusan saya, Moeldoko. Bukan sebagai KSP," tegasnya. 

Sebelumnya, Ketum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono menyebutkan, aksi kudeta terhadap dirinya dilakukan oleh sekelompok berisi 5 orang. 

Mereka terdiri dari satu kader Demokrat aktif, satu kader yang sudah 6 tahun tidak aktif. 

Lalu ada satu mantan kader yang diberhentikan tidak hormat karena kasus korupsi 9 tahun lalu, satu mantan kader yang keluar 3 tahun lalu, dan satu nonkader. 

Khusus oknum nonkader ini, AHY menyebut yang bersangkutan diduga merupakan seorang yang dekat dengan lingkaran pemerintahan Presiden Joko Widodo. []