Heboh Pengeroyokan Anak Mantan Dirut BRI, Pengamat Ini Minta Publik Tak Terhasut

Ilustrasi/net
Ilustrasi/net

Kasus dugaan pengeroyokan yang menimpa pria bernama Bryan Yoga Kusuma di Kafe HolyWings, Sleman, Yogyakarta pada Sabtu dini hari (4/6) menjadi sorotan publik.


Dalam kasus tersebut, dua anggota Satreskrim Polres Sleman AR dan LV disebut-sebut terlibat dalam penganiayaan terhadap Bryan Yoga Kusuma yang merupakan anak eks Dirut BRI, Suprajarto.

Merespon hal ini, pengamat politik, hukum dan keamanan Dewinta Pringgodani meminta publik mempercayakan pengusutan dan penyelidikan kasus tersebut kepada aparat Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Dewinta menyakini Polri akan menjunjung visi  Presisi yang merupakan singkatan dari prediktif, responsibilitas, transparasi, dan berkeadilan.

"Jangan mudah menghakimi dengan opini-opini liar dan jangan gampang terhasut dengan menyebut ada oknum polisi bersalah," kata Dewinta dalam keterangannya, Senin (6/6).

Informasi yang diterima Dewinta, pria bernama Karmel sudah membuat laporan polisi dengan terlapor Bryan Yoga Kusuma.

 "Kasus itu bermula dari cekcok hingga perkelahian antara Karmel dan Bryan Yoga," kata Dewinta.

Melihat ada perkelahian, menurut Dewinta, dua anggota Polres Sleman yang sedang ada di lokasi berinisiatif untuk melerai.

"Namun salah satu anggota Polri malah terkena pukulan dari Bryan Yoga. Hingga akhirnya terjadi pembelaan diri dari anggota tersebut," kata Dewinta.

Dewinta melanjutkan, melihat temannya terkena bogem mentah Bryan Yoga, anggota Polri lainnya tidak terima dan ikut memukul anak komisaris Bank Jatim tersebut.

Karena itulah, Dewinta mendorong publik mengutamakan asas praduga tak bersalah dalam menyikapi kasus tersebut.

"Jangan langsung menghakimi anggota Polri yang bersalah, publik harusnya jernih melihat dari banyak sisi, bukan cuma keterangan keluarga Bryan Yoga saja," saran Dewinta.

"Karena polisi selalu dibilang sebagai pihak yang salah, padahal sudah bagus mau melerai, tapi malah ikut dipukul," demikian Dewinta.

Sebelumnya, Kapolres Sleman AKBP Achmad Imam Rifai menyampaikan tindak lanjut peristiwa dugaan pengeroyokan di Holywings Sleman terhadap Bryan Yoga Kusuma.

“Terkait dugaan tindak pidana pengeroyokan/penganiayaan Reskrim Polres Sleman telah melakukan pengecekan terhadap korban,” kata AKBP Achmad kepada wartawn, Minggu (5/6).

Achmad mengatakan, tempat pengecekan dilakukan di IGD RSUD Sleman dengan korban bernama Bryan Yoga Kusuma.

 “TKP Tempat Parkir Cafe Holywings Jogja, saksi bernama Albert (saksi 1) dan Agus (saksi 2),” kata Achmad.

Sementara itu, untuk identitas pelaku, kata AKBP Achmad Imam, masih dalam lidik.

 “Kronologi kejadian berdasarkan keterangan dari saksi 2, korban dan saksi 1 sebelumnya pada Sabtu, 4 Juni 2022, sekira pukul 1.30 WIB berada di Cafe Holywings Jogja, korban terlibat adu mulut atau cekcok dengan pengunjung lain,” kata Achmad.

Menurut Anung, ketika pertikaian mereda, C dan L menawarkan untuk menyelesaikan masalah itu di Polres Sleman. Menurut dia, saat di kantor polisi itu penganiayaan terhadap Bryan malah berlanjut. 

Sementara Kepala Bidang Humas Polda DIY Kombes Yuliyanto mengatakan, Subdit Pengamanan Internal Polda DIY akan memeriksa 17 orang saksi yang diduga mengetahui peristiwa tersebut.

Ke-17 saksi itu terdiri dari empat warga sipil serta 13 polisi yang sedang bertugas di Polres Sleman saat kejadian.

Setelah memeriksa para saksi, kata dia, polisi akan melakukan gelar terhadap perkara itu.[]