Hikayat Pulau Seribu, Suara Ahok dan Jengis Khan

BAGAIMANA perolehan suara Ahok-Djarot di Kepulauan Seribu dalam pencoblosan Pilgub Jakarta bulan Februari nanti, setelah Ahok jadi terdakwa penista agama? Dan kasusnya punya skala magnitude serta resonansi yang besar sekali sehingga menabrak sendi-sendi kerukunan dan toleransi beragama yang membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa.


Saat Pilgub 2012 Ahok yang cawagub yang berpasangan dengan Jokowi sebagai cagub dan didukung oleh Partai Gerindra dan PDIP, ternyata kalah telak di Kabupaten Kepulauan Seribu. Keduanya unggul di lima wilayah Jakarta, sedangkan pasangan Foke-Nara yang didukung Golkar, Partai Demokrat, PPP, PKS, malah sebaliknya.

Menurut catatan media, suara Foke-Nara di Kabupaten Kepulauan Seribu mencapai 6.916 suara, sedangkan Jokowi-Ahok 1.273 suara.

Itulah antara lain yang menjelaskan kenapa Ahok pada bulan September yang lalu melakukan kunjungan dinas sekaligus berkampanye di Pulau Seribu dengan "bungkus" meninjau panen ikan, saking bernafsu ingin menang di wilayah itu Ahok kejeblos melakukan penistaan agama dengan menyebut-nyebut surat Al Maidah.

Masyarakat Kepulauan Seribu umumnya hidup miskin dengan segala keterbatasan akses, padahal alamnya kaya, masyarakatnya religius, dan mayoritas menyandarkan matapencarian pada laut.

Sejak zaman Soeharto kawasan ini lebih dikenal sebagai "tempat pejabat mancing", kondisi pulau-pulau di wilayah Kepulauan Seribu umumnya memprihatinkan meski menyimpan banyak potensi.

Waktu tokoh nasional Dr Rizal Ramli jadi Menko Maritim dan Sumber Daya kawasan Kepulauan Seribu dimasukkannya jadi salah satu dari Sepuluh Destinasi Wisata Nasional.

Rencananya kawasan Kepulauan Seribu akan diintegrasikan dengan wilayah Kota Tua, yang merupakan kawasan bernilai sejarah tinggi, Old Batavia. Pada tahun 1600-an dari wilayah inilah Jakarta bermula.

Sayang sekaligus ironis, upaya luhur untuk menaikkan taraf hidup masyarakat Kepulauan Seribu melalui sektor pariwisata ini musnah justru pada saat Dr Rizal Ramli sedang sangat gigih memperjuangkannya, lantaran tokoh nasional ini direshuffle karena pada saat yang sama Rizal Ramli juga sedang berjuang membela harkat kehidupan para nelayan dan masyarakat di sekitar Pantai Utara Jakarta yang porakporanda akibat proyek reklamasi Ahok.

Dulu orang Belanda yang hendak masuk Batavia sebelum berlabuh di Sunda Kalapa lebih dulu transit di antara pulau-pulau di kawasan Kepulauan Seribu, terutama Pulau Onrust.

Mereka transit karena kondisi dan iklim Jakarta pada abad 18 sangat buruk, saking buruknya Batavia saat itu dijuluki Graf Der Hollanders atau Kuburan Orang Belanda, tempat mewabahnya kolera, disentri, malaria, dan berbagai penyakit mematikan.

Pulau Onrust pada masanya adalah pulau yang sangat sibuk, saking sibuk ia dinamakan Onrust yang berarti "tidak pernah istirahat" (Unrest, dalam bahasa Inggris).

Pulau Onrust bukan hanya pusat perbengkelan bagi kapal-kapal VOC, pada masanya ia pulau yang ramai, kawasan bisnis, dan administrasi yang sibuk.

Onrust yang memiliki nilai sejarah tinggi sekarang bukan cuma semakin dilupakan tetapi juga luas daratannya makin tergerus oleh abrasi dan terkena dampak proyek reklamasinya Ahok. Sebuah proyek bernuansa sarat kepentingan para taipan, asing dan aseng, yang bertolak belakang dengan sikap serta sifat nasionalisme-kebangsaan yang ditunjukkan oleh tokoh nasional Dr Rizal Ramli yang menolak proyek tersebut sewaktu jadi Menko Maritim dan Sumber Daya.

Pulau yang menyimpan potensi wisata itu kini ditelantarkan, di media massa banyak ditampilkan secara ngawur sebagai pulau misteri, pulau angker.

Sejarawan JJ Rizal bercerita kepada penulis, Pemda Jakarta saat ini bukan hanya tidak peduli terhadap nasib Onrust, sebuah benteng yang sangat bersejarah di kawasan Pasar Ikan, benteng Zeeburg, juga telah dirobohkan, digusur bersama pemukiman warga di sekitarnya.

"Saat menggusur kawasan kota tua yang diajak ngomong aparat, bukan arkeolog dan sejarawan," kata JJ Rizal.

Di kawasan Tanah Abang pernah ada heritage yang sudah menjadi tradisi turun temurun sejak sekitar seratus tahun yang lalu yaitu pasar kambing, tempat para peternak dari Jakarta dan sekitarnya menjual ternak-ternak terbaik mereka, terutama saat lebaran haji. Tempat ini sekarang juga digusur, antara lain dituding karena mengganggu ketertiban.

Tampaknya bukan cuma dengan warga lemah Jakarta saja Ahok berkonfrontasi, tapi dengan kambing pun Basuki Tjahaja Purnama tidak mau berbagi.

Bagaimana bisa membangun Jakarta yang manusiawi dan beradab kalau manusia dan nilai sejarahnya ditelantarkan, hanya bikin material belaka tanpa ada rohnya, bahkan dihancurkan, dimusnahkan, ibarat tabiat Jengis Khan yang keji dan arogan.

Jakarta butuh pemimpin yang melayani dengan hati, warga pribumi Jakarta bukan bangsa Mongol atau bangsa Tartar.

Selain keji, arogan, bengis, dan kotor lisannya, Jengis Khan berkuasa karena mengkooptasi kaum cerdik pandai, seniman, perajin, sastrawan, guru, ahli bahasa, rohaniawan, tabib, ahli sejarah, dan ahli strategi perang, serta para profesional yang dianggap penting untuk melanggengkan kekuasaanya.

Salah satu sebab kesuksesan Jengis Khan adalah karena kekejaman dan kebengisannya terhadap lawan yang berhasil dikalahkan.

Para pemimpin lawan yang tertangkap biasanya direbus hidup-hidup di belangga besar berisi air mendidih.

Syahdan suatu kali Jengis Khan ditanya oleh orang dekatnya:
"Yang Mulia, apakah kebahagiaan terbesar di dalam hidup Yang Mulia?"

Jengis Khan menjawab: "Berburu di musim semi, mengendarai seekor kuda yang tangkas dan bagus. Tetapi kebahagiaan terbesar ialah menaklukkan musuh, mengejar mereka sampai tertangkap, kemudian merampas harta milik mereka, memandangi kerabat dekat mereka meratap dan menjerit-jerit, menunggangi kuda-kuda mereka, memeluk istri dan anak-anak gadis mereka, serta memperkosa mereka..."

Astaghfirullah!!
Naudzubillahimindzalik!!!

Kisah dan legenda tentang Jengis Khan ini hidup selama berabad-abad di dalam masyarakat, terutama masyarakat Asia termasuk Nusantara. Konon saking bengisnya penguasa Mongol dan Tartar itu asal kata "bengis" berasal dari namanya, "Jengis".

Jengis Khan. Khan berarti penguasa atau orang berkedudukan tinggi.

Jengis Khan boleh diartikan sebagai penguasa bengis. Bengis Khan.

Apakah Jakarta akan dipimpin oleh seorang berwatak seperti Bengis Khan?
 
Musibah, bencana, dan kemalangan tentu membayang di depan mata warganya, terutama mereka kaum lemah yang tidak berdaya.

Dan dari pinggir ibukota aku akan mencatat prahara.[***]

Arief Gunawan Rachmat
Wartawan Senior Rakyat Merdeka