Informasi Covid-19 Mazhab Konspirasi

Ilustrasi/Net
Ilustrasi/Net

SEORANG filsuf terkemuka Karl Raymund Popper dalam buku "The Open Society and its Enemies, The High Tide of Prophyec: Hegel and Marx, and The Aftermath" dalam bab berjudul "The Autonomy of Sociology" menyebutkan bahwa Konspirasi ialah kenyataan di mana penjelasan dari fenomena sosial terdiri dari keberadaan fenomena itu sendiri (di mana terdapat kepentingan tersembunyi yang harus terungkap terlebih dahulu) dan orang yang merencanakan dan berkonspirasi untuk menciptakan fenomena itu.


Pemahaman berkenaan ada konspirasi dibalik fenomena sosial terbentuk dari motif kognisi yang bersifat kritik sosial dan sikap penasaran, merasa tidak puas dengan penjelasan institusi yang berwenang atau pakar yang kredibel-kompeten maka ia mencari saluran informasi (informan) yang lain sebagai bahan untuk melakukan kritik dan pemenuhan rasa penasaran tersebut.

Jenis informan dalam mengungkap data-data mengenai konspirasi tersebut bersifat random (acak). Orang-orang yang mencari informasi menggunakan cara-cara tersebut bisa disebut bermazhab konspirasi.

Biasanya, tak penting siapa informannya (track record, kapasitas, kompetensi dsb) yang terpenting adalah apa yang disampaikannya. Asalkan menarik, unik dan ‘terasa nyambung’ dengan fenomena sosial yang terjadi maka bisa dijadikan rujukan.

Mereka memiliki anggapan bahwa fenomena sosial yang terjadi bukanlah berdasarkan alurjalur yang alamiah (natural, begitu saja) namun ada sajian ideologis, tokoh utama dan kepentingan dibalik terjadinya fenomena tersebut. Dan memiliki kadar kompleksitas yang tinggi.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) konspirasi disebut sebagai persekongkolan atau komplotan. Sedangkan pelaku yang menjalankan konspirasi ini disebut dengan konspirator. Misalnya, Pencuri sepeda motor bisa ditandai sebagai tokoh utama dalam sebuah konspirasi (konspirator), ideologinya adalah kejahatan dan kepentingannya adalah motif ekonomi (uang).

Dalam beberapa kasus di kehidupan sehari-hari sebetulnya mazhab konspirasi tidak selalu membentuk pikiran abstraktif dan mengawang-ngawang, namun bisa teruji secara ilmiah dan dibuktikan melalui hukum normatif.

Bahkan semangat orang-orang bermazhab konspirasi ini sangat dibutuhkan dalam dunia keilmuan. Sikap kritis, curiga dan penasaran, bukankah dari ketiga sikap ini akan melahirkan sajian ilmu pengetahuan yang matang dan mendalam?

Permasalahan terbesar orang-orang bermazhab konspirasi ini ialah ketika keyakinan informasi yang mereka pegang bertentangan dengan fakta-fakta ilmu pengetahuan.

Jelas hal ini membahayakan. Meyakini bahwa ada ‘maksud jahat’ dibalik fenomena sosial namun tidak berpijak kepada ketentuan-ketentuan ilmiah atau hukum normatif.

Perilaku ini hanya akan melahirkan kaum pelamun (rajin mengkhayal) bukan kaum pembaca-peneliti. Prinsipnya silahkan meyakini satu informasi namun mesti berbobot.

Fenomena sosial yang terjadi sekarang yaitu mendunianya wabah corona (pandemi Covid-19) beberapa pihak menyebutnya bencana kesehatan dunia, banyak sekali masyarakat di Indonesia bermazhab konspirasi dalam upaya mengumpulkan informasi mengenai covid-19. Beranggapan bahwa pandemi covid-19 ‘sengaja’ dibuat atas persekongkolan jahat beberapa ‘elit dunia’.

Memiliki anggapan seperti ini tidaklah haram namun di tengah bencana kesehatan yang luar biasa hebatnya, keyakinan-keyakinan seperti ini akan menular ke banyak orang dan menghasilkan sikap-sikap yang kontra-produktif.

Sikap kontra-produktif di masa pandemi ini salahsatunya membenturkan kenyataan-kenyataan ilmiah versus khayalan-khayalan masyarakat. Mengapa disebut khayalan? karena terbentuk dari rangkaian informasi yang dipaksa dihubungkan dan dicocokkan, dalam becandaan mahasiswa ini dinamai ‘cocokologi’ (ilmu mencocok-cocokkan).

Ada 5 jenis informasi covid-19 bermazhab konspirasi. Pertama, Covid-19 adalah virus buatan elite global (konspirasi global). Kedua, virus ini sengaja dibuat untuk menghadirkan rantai bisnis vaksin (konspirasi kapitalis), ketiga virus dibuat untuk menghanguskan secara perlahan ketentuan-ketentuan agama (konspirasi agama).

Keempat, virus ini adalah upaya de-populasi atau mematikan manusia berusia lansia (konspirasi demografi). Virus ini adalah wahana untuk melakukan perang biologis (konspirasi militer).

Kelima jenis informasi tersebut di produksi oleh beberapa orang dan dikonsumsi oleh jutaan orang.

Hasilnya? Masyarakat melihat covid-19 tidak sebagai objek ‘scientis’ (keilmuan) yang mesti diurai secara presisi dan empirikal namun sebagai objek khayalan (halusinatif). Hal terburuk dari logika halusinatif ini yaitu hilangnya kepercayaan terhadap eksistensi pandemi covid-19.

Covid tidak ada! Maraknya lahir konten informasi covid-19 bermazhab konspirasi tentunya bukan tanpa sebab banyak pihak yang menghitung bahwa ‘tren’ masyarakat Indonesia sejak dahulu menyukai hal-hal yang sifatnya klenik, unik dan mistik. Jauh dari kesadaran-kesadaran rasionalitas.

Oleh karena itu fakta kebudayaan masyarakat tersebut 'diakali’ oleh beberapa orang menjadi objek penghasil rupiah, membuat konten-konten youtube, web dan lainlain mengenai konspirasi. Sehingga menghasilkan keuntungan materil. Namun tentunya ada juga pihakpihak membuat konten konspirasi atas perhitungan ideologis atau agama.

Tetangga, kerabat dan saudara yang satu persatu gugur berjuang melawan covid-19 harusnya menjadi refleksi bahwa kita mesti bertindak adil terhadap diri kita sendiri, sirami pikiran kita dengan informasi-informasi yangmembuat kita kuat-sehat-bugar bukan malah informasi yang mengantarkan kepala kita ke ‘ujung langit’ (sia-sia). Kesehatan mesti diperjuangkan dengan pikiran yang sehat, kematian mesti direnungkan dengan hati yang lapang.

Pikiran kita mari kita konsentrasikan kepada hal-hal yang lebih produktif, bagi orang yang berdagang, bangun pikiran inovatif untuk berjualan ditengah pandemi. Bagi pegawai mari bangun cara kerja yang efektif secara online.

Bagi siswa dan pengajar pikirkan bagaimana membangun pembelajaran yang kreatif, dan lain sebagainya. Hal-hal seperti ini yang akan mengantarkan kita kepada kematangan dalam sebuah krisis. Jika kita bersama-sama menghadirkannya, maka kita akan lahir sebagai bangsa pemenang di pandemi covid-19 ini.

Bertanya, menyimak kepada yang ahli. Dokter, akademisi kedokteran, akademisi ilmu-ilmu lain yang relevan dengan pandemi ini. Mereka bersekolah, mengais ilmu lalu mencari pengalaman adalah untuk profesionalisme bidangnya. Mari menghargai kompetensi dan kualifikasi mereka.

Mari sama-sama menganggap diri bodoh dan bersemangat untuk belajar. Bangun rasa ingin tahu, buang rasa ‘sok tahu’.

Indonesia dihuni masyarakat beragama. Daripada mendekatkan pikiran dan hati kepada alur dinamika konspirasi yang superpelik dan memusingkan. Lebih bernilai tentunya mendekatkan diri kepada sang pencipta.[]

Muhammad Ersyad Muttaqien, SKom.I, MI.Kom

Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Pasundan Bandung