Inspirasi Ibrahim 

Ilustrasi/Net
Ilustrasi/Net

MARI kita membayangkan, betapa taatnya Ibrahim pada Allah SWT. Iya sih, beliau kan Nabi, pasti taat pada Tuhannya. Tapi tetap saja luar biasa. Betapa besar ketaatan Nabi Ibrahim ini, pada Allah SWT.


Coba bayangkan,

Nabi Ibrahim pernah diperintah Allah untuk membawa anak istri nya ke sebuah tempat yang jauh. Daerah yang tandus, gersang, dan tidak bertuan. Tidak cukup sampai di sana, Nabi Ibrahim juga harus meninggalkan anak istrinya di sana. Berdua saja. 

Sebagai seorang suami, tentu beliau tidak tega meninggalkan istrinya di sana. Sebagai seorang ayah dari anak yang masih bayi, rasanya tidak mungkin beliau mau meninggalkannya. 

Tapi akhirnya beliau lakukan. Istri dan anaknya, beliau tinggalkan di sana. Di daerah yang gersang itu. Yang tandus itu. Lembah yang tidak bertuan itu.

Nabi Ibrahim melakukannya, atas perintah Allah. Pun beliau, kalau tidak salah, tidak tahu kenapa harus membawa mereka untuk kemudian ditinggalkan. Lebih tepatnya tidak diberi tahu oleh Allah SWT. 

Ibrahim tidak diberi tahu kalau usahanya itu akan berdampak sangat panjang. Bahkan sampai pada akhir zaman. Karena dari lembah yang tidak bertuan tersebut, akan muncul sebuah komunitas masyarakat. 

Dari komunitas masyarakat tersebut lah nanti diutus seorang nabi akhir zaman beserta para sahabatnya yang akan mengawali. Atau lebih tepatnya, menyempurnakan tugas nabi-nabi sebelumnya. Nabi Muhammad SAW adalah penutup para nabi yang diutus untuk seluruh umat manusia sampai akhir masa.

Nabi Ibrahim tidak tahu itu. Tapi ketidaktahuan itu tidak menghalangi untuk melaksanakan perintah Allah. Pun perintah itu, sangat berat sekali. 

Pada peristiwa yang lain.

Bayangkan, beliau diperintah menyembelih Ismail, anaknya. Anaknya loh. Yang keberadaannya sudah ditunggu bertahun-tahun itu. Anak nya yang setelah lahir, harus ia tinggalkan di tempat yang jauh itu. Anaknya itu, sungguh sangat berharga di mata Ibrahim.

Apalagi perintah Allah itu, adalah perintah yang tidak diberitahu juga apa alasannya. Apa rahasianya. Apa hikmahnya. Dan apa akhir ceritanya.

Bahwa Ismail nanti akan diganti dengan Qibas. Bahwa nanti, dengan peristiwa ini, ada syariat yang harus diamalkan oleh umat islam, Ibrahim tidak dikasih tahu.

Saya rasa, dalam benak Ibrahim. Dalam bayangan beliau. Dalam imajinasinya, Ismail akan meninggal setelah disembelih. Logis saja, semua makhluk yang bernyawa akan meninggal ketika lehernya disembelih.

Maka tentu beliau merasa berat. Saya tidak bisa membayangkan, betapa galau hati beliau. Apa malah tidak ? Apa hanya perasaan saya saja? Saya rasa kegalauan tersebut tetap ada, sangat manusiawi, apalagi faktor untuk galau itu sangat mendukung, seperti yang saya jelaskan di atas.

Tapi ya itu, ujungnya tetap beliau laksanakan juga perintah tersebut.

Kenapa Ibrahim bisa taat? Mengingat bahwa beliau adalah seorang nabi, memang kesannya jadi wajar. Mungkin masih terasa berat, tapi ketaatan tetap jadi pilihan utama. 

Tapi jika harus dirasionalisasikan, apa kira-kira yang membuat ketaatan itu menjadi harga mati? Atau pertanyaan yang lebih sederhana; apa yang harus kita lakukan agar bisa menjadi hamba yang taat pada Allah SWT?

Tentu jawaban ini bisa kita tanyakan pada ulama. Atau pada orang-orang shalih lainnya. Atau para pakar sejarah, yaitu mereka yang menekuni sejarah nabi-nabi.

Pastinya, jika Allah memberi perintah kepada hamba-Nya tidak mungkin ia berupa keburukan. Ingat, Allah itu Maha Pengasih dan Penyayang. Tidak mungkin Allah menjerumuskan hamba-Nya pada kenistaan. Apalagi kepada hamba-Nya yang jelas-jelas adalah hamba yang bertaqwa kepada-Nya.

Semua kebijakan Allah, keputusan-keputusan yang Allah tetapkan, yang Allah perintahkan kepada hamba-Nya, termasuk kepada Ibrahim, adalah wujud dari kasih dan sayang-Nya. Bahkan kasih dan sayang yang sesungguhnya, karena Dia adalah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Apa yang terjadi pada Ibrahim, adalah bentuk dari kasih dan sayang Allah. Apa yang dialami oleh beliau, merupakan wujud dari kasih dan sayang dari-Nya. Pun di mata manusia, perlakuan itu terkesan tidak manusiawi.

Allah juga Maha Mengetahui. Karena itu, dibalik sebuah peristiwa, pasti ada rahasia yang tidak diketahui. Ada rahasia besar di balik perintah pembuatan bahtera kepada Nabi Nuh. Ada rahasia besar di balik perintah Allah kepada Ibrahim agar membawa istri anaknya ke lembah tidak bertuan. Juga dalam peristiwa penyembelihan ismail.

Rahasia besar itu, hanya Allah yang tahu. Karena Dia Maha Mengetahui. Allah mengetahui apa yang tidak kita ketahui. Pengetahuan manusia terbatas, sedangkan pengetahuan Allah tidak terbatas. 

Nabi Ibrahim tidak mengetahui secara pasti apa tujuan dari perjalanan ke lembah tidak bertuan, kemudian meninggalkan anak istrinya di sana. Beliau juga tidak mengetahui, apa tujuan dari perintah menyembelih Ismail. Yang beliau tahu, Allah memerintahkan itu. Dan dia tidak posisi lain kecuali patuh dan taat.

Allah juga Maha Bijaksana, artinya semua keputusannya adalah keputusan yang paling bijaksana. Jika ada ungkapan yang mengatakan bahwa tidak kebijakan yang bijaksana, karena pasti ada pihak yang dirugikan, maka ungkapan tersebut hanya berlaku untuk manusia saja. Allah adalah pengecualian.

Allah adalah Yang Maha Bijaksana. Maka bisa dipastikan, semua keputusannya, semua perintahnya, adalah keputusan dan perintah yang dilandasi oleh sebuah kebijaksanaan yang haqiqi, yaitu kebijaksanaan yang sejati.

Begitulah Ibrahim,

Keyakinannya bahwa Allah sebagai Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Yang Maha Mengetahui, lagi Bijaksana, bisa jadi sudah sampai pada level puncak. Sehingga ia bisa hamba yang taat. Sangat taat kepada Allah SWT.

Perintah yang ia terima, mungkin terlihat tidak manusiawi. Tapi ia yakin bahwa Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Perintah yang dia dapatkan, bisa jadi tidak ia mengerti maksud dan tujuannya apa, tapi ia meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui.

Perintah yang Ibrahim dapatkan, bisa jadi di mata kita, andai kita hidup pada zaman itu, dan tidak tahu akhir ceritanya, kita nilai sebagai perintah yang tidak bijaksana. Tapi Ibrahim berbeda menilainya. Dalam keyakinan Ibrahim, Allah adalah Yang Maha Bijaksana. Maka, apa pun perintahnya, adalah wujud dari kebijaksanaan itu. 

............

Setelah menyadari kalau Ismail diganti dengan Qibas, mari kita bayangkan betapa gembiranya Ibrahim. Juga istrinya. Dan tentu anaknya. Betapa berterimakasih mereka kepada Allah. Betapa bersyukur mereka. 

Saya membayangkan, perasaan mereka, pasti bercampur baur; ada kagetnya, ada bahagianya, ada keharuannya. Dan biasanya manusia, jika sudah berada pada kegembiraan di level tertinggi, yang terjadi adalah tangisan; tangis haru, tangis bahagia. 

Dari peristiwa ini saya belajar, bahwa sungguh, Allah memang Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana. [] 

Aang Kunaifi

Pemerhati Politik dan Isu Strategis