Iriana Jokowi Tak Pantas Ikut Pilkada DKI, Apalagi Pilpres

Ibu Negara Iriana Jokowi/Net
Ibu Negara Iriana Jokowi/Net

Nama Ibu Negara Iriana Jokowi mendadak dikait-kaitkan dengan Pilpres 2024 dan Pilkada DKI Jakarta.


Hal ini menyusul hasil survei yang dilakukan Lembaga Penelitian Masyarakat Milenium (LPMM) yang memposisikan nama istri Presiden Joko Widodo itu menjadi kandidat kuat yang dipilih masyarakat untuk menjadi calon presiden.

Merespon hasil survei LPMM tersebut, pengamat sosial politik Yukie H Rushdie menilai, dalam konteks Indonesia, mendudukkan atau tepatnya "menyeret" Ibu Negara pada politik praktis cenderung berlebihan.

Yukie mengatakan, secara historis, belum ada seorang pun Ibu Negara RI yang "terjerumus" menjadi pejabat publik melalui panggung pemilihan, baik Pilkada ataupun Pilpres.

Dari sekian Ibu Negara pendamping Bung Karno, disusul Tien Soeharto, Ainun Habibie, Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, hingga Ani Yudhoyono, tak ada satu pun yang melaju ke ajang Pilkada apalagi Pilpres.

"Kalau soal masuk bursa, berdasarkan survei atau apapun namanya, hampir di setiap periode juga memang ada. Tapi semuanya berhenti di tingkat wacana," kata Yukie saat berbincang dengan Kantor Berita RMOLJakarta, Jumat (16/4).

Dari analisa Yukie, lebih masuk akal kalau yang didorong itu adalah putra-putri Presiden. Karena secara historis, lebih berjejak.

Misalnya, ada kiprah Megawati Soekarnoputri di tingkat Pilpres, atau terakhir Agus Harimurti Yudhoyono di arena Pilkada DKI Jakarta.

"Jadi, jangankan untuk menjadi Presiden atau Gubernur DKI, bahkan sekadar mendaftar jadi "calon" pun rasanya sosok Ibu Negara itu kok ya kurang yakin," kata mantan jurnalis SKH Kedaulatan Rakyat ini.

Yukie berpandangan, hal itu bukan soal regulasi, kapabilitas, atau akseptabilitasnya, tapi semata-mata karena asas "kepantasan" saja.

Bahkan seorang Hillary Rodham Clinton pun gagal. Corazon Aquino pun bukanlah Ibu Negara, karena Benigno Aquino tidak pernah menjadi Presiden Filipina. Begitu pula dengan sejumlah pemimpin wanita di sejumlah negara lainnya di dunia.

"Singkatnya, saya kira masih belum waktunya Indonesia "menyeret" Ibu Negara ke ranah politik praktis," demikian kata Yukie.

Diketahui, nama Iriana Jokowi muncul dari hasil survei yang dilakukan LPMM yang digelar pada 26 Maret sampai 8 April 2021.

Sosok Iriana Jokowi menjadi pilihan saat responden disuguhkan simulasi tokoh wanita nasional yang dianggap layak untuk dipilih bila Pilpres digelar hari ini.

Survei LPMM digelar dengan memilih sampel secara acak kepada WNI berusia 17 tahun ke atas yang diwawancarai melalui sambungan telepon. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 2.000 responden yang mewakili pemilih nasional.

Margin of error survei kurang lebih 2.19 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.[]