Jakarta Yang Terhina Diantara Gelimangnya Apresiasi

Anies Baswedan/Ist
Anies Baswedan/Ist

BANJIR di Jakarta bagi sementara pihak adalah semacam festival lomba nyinyir, perundungan bahkan lebarisasi kedunguan yang jauh dari logika.


Tingginya debit hasil banjir di Bogor atau jebolnya tanggul di Banten yang bahkan eksesnya tidak menyentuh bagian Jakarta sekalipun tetaplah menjadi saluran caci maki khususnya kepada sang Gubernur, Anies Baswedan.

Lucunya ada saja daur ulang foto lama atau lokasi non Jakarta yang diposting dengan melabeli Jakarta Banjir - Gubernurnya kemana?. 

Alih-alih membuat greget warga malah yang terjadi sebaliknya. Sudah basi lah kalau urusan tipu-tipu gitu, kilah netizen yang paham mana asli mana berita palsu.

Terlepas dari hal-hal semacam itu, upaya pihak lawan Anies terutama dalam kaitan 'big analysis' untuk 'the next Indonesian leader' yang menempatkan tingginya popularitas Anies dimata rakyat tentu tiap saat ada rasa ketar-ketir yang berefek over dosis dalam resep cara membunuh karakternya. Apalagi dikaitkan dengan traumatik mantan orang dalam yang disisihkan tapi malah tumbuh cemerlang.

Tidak dapat dipungkiri bahwa perundungan terhadap Gubernur Anies khususnya di medsos oleh beberapa oknum perusak persatuan bangsa sangat terasa ada komando dibaliknya yang memberi tugas khusus untuk itu. 

Bahkan ditemukannya pemotongan kabel-kabel pompa air Dukuh Atas sangat mencerminkan hal itu. Tidak peduli berapa korban warga yang akan mengalami musibah seandainya timbul banjir akibat tidak berfungsinya kabel-kabel tersebut. Tentu pihak pelaku ini adalah komplotan biadab melebihi terorisme.

Mereka tidak sadar upaya meneror diskreditsasi Anies sama saja dengan merendahkan bahkan menghina eksistensi Jakarta selaku Ibukota Negara. upaya keras Pemprov DKI  menyelamatkan sisa beberapa titik lemah wilayah yang rentan banjir akibat kepungan arus sungai kiriman bersamaan derasnya hujan turun adalah bagian upaya menjaga 'image' Indonesia juga.

Mencaci maki dengan nyinyiran, perundungan bahkan berfitnah ria dalam bentuk meme hanyalah menunjukan kepribadian konyol jauh dari intelektual apalagi selaku 'elite people' yang hidup di Kota Betawi modern ini. 

Tiga tahun berprosesnya kepemimpinan seorang Anies sejauh ini telah menampilkan kuatnya karakter seorang intelektual yang humanis, menerima banyak penghargaan secara alami, fair karena murni prestasi kerja bukan karena hasil "belanja". Terakhir yang sangat membanggakan adalah dibidang transportasi. Kota dengan keberhasilan tertinggi mengkoneksitas moda angkutan warga.

Memang Jakarta tak akan mungkin terhina oleh ulah segerombolan buzzer hater karena gelimangnya apresiasi, bagaikan upaya melempar garam ke laut agar asin atau setumpuk emas yang coba ditutupi dengan segenggam kotoran, maka yang terjadi hanyalah khayalan Jakarta yang terhina diantara gemilangnya apresiasi dan sesungguhnya sangat menyakitkan kenyataan itu bagi mereka...[]

Adian Radiatus

Pemerhati Sosial Politik