Jangan Tunda Lagi, Segera Perbaiki Layanan Air Bersih di Marunda Kepu

Pengolahan air bersih Perumda PAM Jaya/Net
Pengolahan air bersih Perumda PAM Jaya/Net

Perumda PAM Jaya diminta memperbaiki layanan air bersih bagi masyarakat Marunda Kepu, Jakarta Utara. BUMD Pemprov DKI Jakarta itu juga diminta mengatasi segala hambatan pasokan air bersih bagi masyarakat setempat.


“Kami mendesak pemerintah untuk memasok air bersih darurat dengan memperhatikan rasio jumlah tangki dan kebutuhan air per kapita selama pasokan air masih terhenti,” kata Direktur Walhi DKI Jakarta Suci F Tanjung yang dikutip redaksi, Jumat (20/5).

Suci mengatakan, sudah satu bulan masyarakat Marunda Kepu yang merupakan pelanggan operator air, PT Aetra Air Jakarta tidak dapat menikmati pasokan air bersih. Hal ini disebabkan karena terputusnya aliran air ke rumah-rumah warga.

Suci menilai terputusnya pasokan air bersih di Marunda Kepu adalah bentuk kegagalan negara dalam memenuhi hak setiap warga atas air yang memadai, aman, dan aksesibel. Pelibatan swasta oleh pemerintah adalah kebijakan yang tidak tepat dan memperburuk kualitas pelayanan air bersih.

“Mitos bahwa swasta mendukung pemenuhan hak masyarakat atas air harus dihentikan. Negara harus memperbaiki kualitas layanan air dimulai dari mengambil alih seluruh pengelolaan air bersih di Jakarta sesuai amanat konstitusi,” kata Suci.

Sementara itu akibat pemutusan pasokan air, aktivitas warga Marunda Kepu menjadi terganggu. Mereka harus meluangkan waktu lebih untuk mencari air bersih dan menggunakannya seirit mungkin.

Selain itu, masyarakat juga harus mengalokasikan dana tambahan untuk membeli air jerigen dengan harga yang tinggi. Potensi gangguan kesehatan juga mengintai warga, terutama bagi perempuan, anak, dan kelompok rentan lainnya.

Masyarakat telah berusaha mengadukan keluhannya pada petugas berwenang. Menurut keterangan salah satu warga Marunda Kepu, kata Suci, pasca terputusnya pasokan air bersih, mereka pernah menegur petugas air bersih yang datang.

Namun keluhan tersebut tidak direspons dengan baik oleh petugas. Alih-alih menerima keluhan dengan memperbaiki layanan, petugas tersebut justru menyarankan warga untuk memutus aliran air jika tidak puas dengan layanan yang ada.

“Persoalan air bersih di Marunda Kepu sendiri tidak terlepas dari buruknya layanan dan diskriminasi pemasangan pipa PAM Jaya,” kata Suci.

Mengacu pada Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 16 tahun 2020 tentang Tata Cara Penyambungan dan Pemakaian Air Minum, warga yang tidak dapat menunjukan bukti kepemilikan tanahnya seperti warga Marunda Kepu hanya bisa memasang pipa PAM secara khusus. Di lapangan, pemasangan jenis ini banyak memiliki kekurangan, salah satunya layanan yang buruk seperti yang terjadi di Marunda Kepu.

“Hak atas air bersih adalah hak dasar seluruh masyarakat. Oleh karenanya, pelayanan air bersih tidak boleh diberlakukan secara tebang pilih untuk alasan apapun,” tegas Suci.

Sejak Sabtu (14/5), PAM Jaya sudah mengirim pasokan air bersih darurat sebanyak tiga tangki per hari. Bantuan tersebut belum bisa memenuhi kebutuhan warga Marunda Kepu yang berjumlah sekitar 400 Kepala Keluarga (KK) di mana menurut UNESCO, standar kebutuhan air per orang mencapai 45-60 liter per hari.

“Kami juga mendesak pemerintah untuk menghentikan pelibatan swasta dalam pengelolaan air bersih di Jakarta karena telah terbukti mengelak dari tanggung jawab dan memberikan pelayanan air bersih yang buruk bagi masyarakat,” demikian Suci. []