Kader NU: Megawati Kasih Sinyal PDIP Usung Puan Maharani

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri/Net
Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri/Net

Pidato Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dalam pembukaan Rakernas PDI Perjuangan di Lenteng Agung, Jakarta Selatan, mengirim sinyal kuat bahwa Puan Maharani menjadi kandidat kuat calon presiden (capres) yang akan diusung PDI Perjuangan dalam kontestasi Pilpres 2024. 


Demikian pandangan dari Wakil Sekretaris NU Jawa Barat (2010-2021), Adlan Daie dalam keterangannya, Kamis (23/6).

Menurut Adlan, sinyal tersebut dapat dibaca dari aksentuasi pidato Megawati sebagai pertanda keteguhan sikap politik seorang ketua umum PDI Perjuangan.

Dalam pidatonya, menurut Adlan,  Megawati dengan tegas meletakkan peta survei elektoral  "hanya boleh dilihat, tidak boleh bergerak mengikuti irama survei". Megawati meyakinkan para kader PDI Perjuangan justru harus bergerak mengikuti irama aspirasi rakyat. 

“Inilah prinsip yang dipegang Ibu Mega. Berdaulat secara politik, kokoh secara ideologis dan legitimated secara sosial. Tidak mudah kaget (gumonan)  atas framing media, lembaga survei dan kekuatan "mainan" politik dari luar PDI Perjuangan,” kata Adlan.

Selain itu, lanjutnya, aksentuasi pidato politik Megawati tersebut jelas dan tegak lurus dalam konteks menjaga konstitusi partai.

Bahwa amanat kongres PDI Perjuangan telah memberi mandat dan hak prerogatif tunggal kepada Megawati dalam menentukan Capres yang akan diusung PDI Perjuangan. 

Karena itu, Megawati tidak ragu-ragu untuk memecat siapa pun kader PDI Perjuangan yang menurutnya coba-coba bermanuver di luar garis partai dan bermain dua kaki.

Tak hanya itu, kata Adkan, tekanan lain dari pidato Megawati sengaja disampaikan tentang posisi Puan sebagai anak tercintanya dan Puan mencintai ibunya. 

Pernyataan ini, lanjut Adlan, meskipun secara tersurat dalam konteks trah biologis Puan akan tetapi dalam konstruksi disampaikan dalam forum resmi setingkat Rakernas PDI Perjuangan yang sangat berwibawa dan dihadiri Presiden Jokowi jelas sebuah pernyataan berbobot politis dalam kerangka ideologi.

“Saya kira, ini sikap politik PDI Perjuangan,” kata Adlan.

Adlan menilai, pemaknaan pidato politik Megawati dalam pembukaan Rakernas PDI Perjuangan aktualisasinya dalam konteks Ganjar Pranowo tentu penting untuk segera mempertegas posisi politiknya atas dukungan para relawan terhadapnya yang berlangsung massif di berbagai daerah. 

“Berhenti bermanuver hendak mendikte keputusan Megawati dalam hal menentukan Capres PDI Perjuangan. Karena dalam konteks inilah dugaan bahwa Ganjar Pranowo "bermain dua kaki" sebagaimana secara implisit dapat ditangkat dari pidato Megawati tersebut,” kata Adlan.

Dengan kata lain, spirit dari pidato Megawati dalam forum Rakernas tersebut hendak menegaskan bahwa kontestasi Pilpres 2024 bukan kontestasi elektoral ibarat idol atau ajang mencari idola selebritis,  melainkan sebuah pertaruhan ideologis bagi PDI Perjuangan dalam konteks transisi ideologis dari Megawati ke Puan Maharani.

“Ini sebuah sikap politik dalam menjaga kesinambungan transisi ideologi kebangsaan PDI Perjuangan,” kata Adlan.

Adlan menegaskan, dalam konteks pertaruhan ideologis itulah Puan Maharani menjadi pilihan tepat bagi PDI Perjuangan untuk diusung sebagai Capres dalam kontestasi pilpres 2024. 

“Itulah yang harus dipahami dari pidato politik Megawati dalam Rakernas PDI Perjuangan di atas baik oleh para politisi dan relawan politik "di luar" PDI Perjuangan maupun umumnya para pengamat politik,” pungkas Adlan.[]