Kehidupan Pasca-Pandemi dan Imajinasi Peradaban

Petugas Ahli Teknologi Laboratorium Medis (ATLM) RSDC Wisma Atlit terlihat sedang mengenakan pin sebagai tanda penghargaan kepada Pejuang Kemanusiaan Penanganan Covid-19 di Graha BNPB, Aula Sutopo Purwo Nugroho/Ist
Petugas Ahli Teknologi Laboratorium Medis (ATLM) RSDC Wisma Atlit terlihat sedang mengenakan pin sebagai tanda penghargaan kepada Pejuang Kemanusiaan Penanganan Covid-19 di Graha BNPB, Aula Sutopo Purwo Nugroho/Ist

KAPAN pandemi berakhir? Tidak pernah ada yang bisa menjawabnya secara pasti. Kebesaran ilmu pengetahuan modern menjadi takluk dalam kelemahan mendasarnya, bahwa sains bukanlah ilmu yang seketika, tidak datang dengan tiba-tiba.


Sebelum sampai pada jawaban mengenai pertanyaan di atas, kita perlu mengurai tentang apa yang dapat kita pelajari selama pandemi bergelayut di dunia. Keberadaan virus sebagai mikro organisme tak kasat mata, membuat semua manusia mengurung diri sebagai sarana perlindungan.

Pandemi menyoal kecepatan serta jangkauan penularan, serta fatalitas dampak yang terjadi. Sebelum terkubur dalam kenangan, pengetahuan yang terserak selama pandemi perlu disusun untuk menjadi modalitas baru mengatasi potensi pandemi di kemudian hari.

Peran Sains

Pada perjalanan berhadapan dengan wabah, kita memulai respon atas eksistensi pandemi dengan meninggalkan akar sains yakni rasionalitas. Penolakan awal akan kehadiran Covid-19, dibumbui dengan berbagai kegagapan komunikasi serta kegagalan untuk mengantisipasi risiko.

Data, fakta dan eksperimentasi lapangan yang menjadi basis ilmu pengetahuan menjadi pemandu di era gelap pandemi. Kabut ketidakpastian serta ketidaktahuan semakin menegaskan bahwa sains tumbuh dari berbagai masalah yang dihadapi oleh umat manusia dari waktu ke waktu.

Sains tidak berjalan secara sendirian. Intervensi ilmu pengetahuan bersinggungan secara lintas disiplin. Pada aspek teknis penanganan wabah, ilmu medis menjadi sarana terdepan, sedangkan untuk mencegah infeksi meluas berada di ranah sosial, ditingkat kebijakan membutuhkan dukungan sokongan keputusan ekonomi-politik.

Persoalan wabah adalah bagian tidak terpisah dari kehidupan manusia, yang terus bergelut melalui interaksi sosial dan alam. Berkali-kali penyakit menular menyebar, berkali-kali pula manusia menghadapinya dengan penuh kepayahan. Sikap abai dan pongah, adalah pemicunya.

Kajian Priyanto Wibowo dkk, Yang Terlupakan: Sejarah Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda, 2009 menyebut bila keterlupaan pembelajaran dari pandemi sebelumnya disebut sebagai keganjilan dalam ingatan manusia -peculiarities of human memory. Sifat alamiahnya mudah lupa serta agak bebal.

Seriusnya Kematian

Bahkan dengan menyitir Albert Camus yang secara ironi menyebut, “seratus juta mayat di sepanjang sejarah tidak lebih dari sebuah bentuk imajinasi”. Kematian adalah konsekuensi dari wabah yang belum bisa ditangani oleh keunggulan akal dan pengetahuan kolektif manusia.

Kematian menjadi sedemikian serius, karena mati adalah batas akhir yang selalu ingin dihindari manusia. Kepedihan kehilangan keluarga, pertambahan yatim-piatu adalah sebagian kecil yang terlihat. Kehilangan kepala keluarga sebagai pencari nafkah, meningkatkan kesenjangan.

Bahkan kekurangan lahan pemakaman, hingga kisruh konflik dalam menangani jenazah menciptakan situasi darurat. Terdapat kegentingan yang harus ditangani dengan segera. Disana peran negara diharapkan hadir untuk menjadi biduk penyelamat dari kondisi krisis yang kritis.

Melalui penelitian Ravando, Perang Melawan Pandemi Influenza -Pandemi Flu Spanyol di Indonesia Masa Kolonial, 1918-1919, 2020 dibutuhkan fokus dan keseriusan dalam mencegah dampak buruk pandemi, dan untuk itu dibutuhkan sikap saling percaya. Kepercayaan terbentuk secara saling terikat.

Di masa pandemi, dibutuhkan tidak hanya kejelasan arah penanganan wabah, tetapi juga membutuhkan informasi yang jernih dengan disertai transparansi untuk dapat melibatkan seluas mungkin partisipasi publik. Sebagaimana perang, upaya memenangkan pertarungan membutuhkan kerja bersama.

Bangkitnya Era Digital

Transformasi terjadi dalam periode pandemi. Kehidupan yang sebelumnya tampil dalam format fisik berubah menjadi semakin terdigitalisasi. Bahkan bekerja dan belajar dipaksa dilakukan di rumah. Sebuah siklus tanpa akhir, mulai dari rumah dan berakhir di rumah.

Kebangkitan era digital ini, semakin diperkuat dengan posisi perkembangan teknologi. Manusia terfasilitasi sekaligus mengadopsi pola digital dalam setiap aspek. Satu yang menghilang adalah sentuhan manusiawi. Dalam makna fisik, bersentuhan dan berdekatan merupakan hal terlarang.

Esensi manusia yang homo socius -penuh dengan aktivitas sosial dan bersosialisasi, mendapatkan tantangan yang luar biasa. Ranah digital memungkinkan kehadiran meski tidak hadir -presence but absent, hadir di ruang-ruang zoom tapi nirfisik.

Tidak kurang pula persoalan hadir dengan melebarnya ruang digital. Pencurian serta kebocoran data, hingga bullying yang disebabkan keterbelahan politik semakin mengemuka, bidang pekerjaan baru timbul mulai dari buzzer hingga influencer, bertindak sebagai pembela.

Dalam buku Fareed Zakaria, Sepuluh Pelajaran Penting Pasca Pandemi, 2020, kehidupan digital terkembang dengan segenap konsekuensi yang dihadapi. Namun yang lebih penting dalam momentum pandemi adalah kesiapsiagaan kita berhadapan dengan ketidakmenentuan.

Lebih jauh Fareed menyebut pandemi adalah alarm yang mengirimkan sinyal tidak biasa dan perlu mendapatkan respon segera. Di antaranya tentang relasi ilmuwan dan publik secara timbal balik, termasuk tentang peran negara yang menurutnya tidak ditentukan oleh kuantitas melainkan dibedakan berdasarkan oleh kualitas dan pola kepemimpinan.

Manusia Pembelajar

Ketangguhan dalam peradaban manusia kembali ke hal paling pokok, yaitu memastikan eksistensi manusia beserta dengan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Pada level individu, masyarakat hingga tingkat dunia perlu dipastikan esensi dasar kemanusiaan terus menjadi laku geraknya.

Kesemrawutan akibat kelangkaan sumberdaya medis, krisis oksigen, minimnya ventilator, hingga panic buying atas berbagai kebutuhan konsumsi mengandaikan manusia dalam frame homo homini lupus -bilamana manusia menjadi serigala bagi manusia lainnya, bersaing hingga maut menjemput.

Padahal yang dibutuhkan dalam mengatasi pandemi adalah kebersamaan, sikap kesukarelaan. Panggilan sebagai sukarelawan, hingga berbagi untuk sesama adalah hal-hal baik yang perlu dikembangkan agar menjadi sebuah sikap keberadaban yang normal setelah pandemi.

Hidup yang new normal mendapatkan padanan bentuk sejati. Bukan tentang saya dan anda, tetapi mengenai kehidupan kita bersama, sesuai prinsip now one is safe until everyone is -tak ada yang akan selamat sebelum semua mendapatkan keselamatan.

Kondisi ini sebagaimana Arundhati Roy, pemenang Booker Prize 1997, yang menyebut bila pandemi tidak ubahnya bak sebuah portal, menjadi pintu gerbang diantara satu dunia dengan dunia berikutnya.

Pada akhirnya, pandemi merupakan sebuah pilihan untuk keluar dengan sebuah konsep kesadaran baru sebagai manusia yang utuh, atau tetap menjalani kehidupan dengan ide-ide lawas. []

Yudhi Hertanto

Kandidat Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid