Keluarga Laskar FPI Tantang Kapolda Metro Jaya Mubahalah

Kapolda Metro Jaya, Irjen Fadil Imran/Net
Kapolda Metro Jaya, Irjen Fadil Imran/Net

Polemik kepemilikan senjata oleh enam laskar Front Pembela Islam (FPI) yang tewas di tangan aparat kepolisian masih menjadi perdebatan. 


Pihak kepolisian menyebutkan, enam laskar itu dilumpuhkan lantaran membawa senjata dan digunakan untuk mengancam dan menyerang aparat yang sedang menjalankan tugasnya.

Apa yang disampaikan polisi itu bahkan dibuktikan dengan adanya dua pucuk senjata api yang disebut telah disita dari enam laskar itu. 

Namun, tudingan polisi ini dibantah tegas oleh pihak keluarga yang tergabung dalam tim pengawal peristiwa pembunuhan (TP3) enam laskar FPI. 

Mereka menegaskan, tidak ada satupun laskar yang mengawal Habib Rizieq Shihab itu yang membawa senjata seperti dituduhkan pihak Polda Metro Jaya. 

Untuk itu, TP3 lantas menantang Kapolda Metro Jaya dan sejumlah jajarannya untuk bersumpah atau melakukan mubahalah. 

Diketahui, mubahalah adalah meminta ketukan dari Allah agar diberikan kepada orang yang berdusta sebagai bukti kebenaran salah satu pihak. 

"Untuk meyakinkan kebenaran dan sikapnya, keluarga apra korban siap bersumpa melalui proses mubahalah dengan aparat kepolisian yang menuduh mereka memiliki senjata api," ujar Abdullah dikutip Kantor Berita Politik RMOL, Senin (1/3). 

Kesiapan keluarga itu, lanjut Abdullah, adalah bukti keyakinan mereka bahwa anak-anak mereka yang terbunuh itu sama sekali tidak membawa senjata api saat kejadian. 

Adapun, tantangan mubahalah ini ditujukan kepada Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus.

Selain itu juga ada anggota Polda Metro Jaya lainnya seperti Bripka Faisal Khasbi, Bripka Adi Ismanto dan Briptu Fikri Ramadhan. []