Komunitas Wartawan Surati BPOM Soal Label Peringatan Konsumen

Roso Daras/Ist
Roso Daras/Ist

Ketua Umum Perkumpulan Jurnalis Peduli Kesehatan dan Lingkungan (PJPKL) Roso Daras, berkirim surat kepada Kepala Badan POM (BPOM), Dr. Ir. Penny K. Lukito MCP.


Surat tersebut berisu permohonan terhadap BPOM untuk mengatur pencantuman  peringatan konsumen pada kemasan plastik  makanan dan minuman mengandung Bisfenol A atau BPA. 

"Jadi kami berkirim surat juga sekaligus memperkenalkan diri sebagai organisasi jurnalis yang sedang fokus menyoroti isu kemasan plastik yang mengandung BPA yang berbahaya bagi kesehatan bayi, balita dan janin pada  ibu hamil," kata Roso melalui siaran persnya, Rabu (20/1).

Menurut Roso,  dia juga menyampaikan dalam surat itu isu mengenai bahaya BPA bagi usia rentan tersebut sebenarnya sudah ada sejak tahun 2010. 

Dunia kesehatan telah mengimbau agar kemasan yang mengandung BPA yang bersentuhan langsung dengan makanan dan minuman yang akan dikonsumsi oleh bayi, balita dan janin yang dikandung oleh ibu hamil sebaiknya dihindari, karena dapat mengganggu kesehatan, seperti pertumbuhan hormonal sampai kanker di kemudian hari. 

Bahkan di beberapa negara seperti di negara Eropa, sebagian peraturan federal negara Amerika, negara Asia telah melarang penggunaan kemasan plastik yang mengandung BPA melalui regulasi yang berkaitan dengan bayi dan balita. 

Menurut Roso, adanya kemudahan akses informasi kesehatan yang didapat dari media internasional dan nasional saat ini, konsumen mulai peka dan peduli adanya bahaya BPA dalam kemasan makanan dan minuman yang bersentuhan langsung pada konsumsi usia rentan yaitu bayi, balita dan janin pada ibu hamil. 

"Saat ini yang sedang disorot adalah kemasan galon guna (isi) ulang air minum. Mengapa galon guna (isi) ulang? Karena ternyata tanpa disadari kemasan galon guna (isi) ulang adalah kemasan plastik yang mengandung BPA yang mendominasi konsumsi air minum yang banyak dikonsumsi oleh segala usia setiap hari. Hal tersebut perlu kita pahami dan tindak lanjuti untuk melindungi konsumen bayi, balita dan janin ibu hamil Indonesia," kata Roso.

Roso juga menyampaikan bahwa ada hubungannya antara botol bayi  dengan sumber air yang dikonsumsi oleh bayi, balita dan ibu hamil.

Jika Botol atau wadah minuman untuk usia rentan tersebut telah bebas BPA, kemudian kemasan susu juga sudah bebas mengandung BPA, tetapi sumber air dari kemasan galon guna (isi) ulang masih mengandung BPA, walaupun ada batas syarat kandungan 0,6 bpj, dapat dibayangkan dugaan atau kemungkinan terpaparnya BPA pada usia rentan tersebut, dan tentu saja hal ini tidak bisa ditolerir.  

Roso berharap dengan surat itu atas nama PJPKL dan lingkungan, memohon agar BPOM RI dapat mengatur pencantuman peringatan konsumen pada label kemasan plastik makanan dan minuman yang mengandung BPA guna melindungi konsumen usia rentan yaitu bayi, balita dan janin pada ibu hamil.   

Selain mengirim surat kepada Badan POM juga mengirimkan tembusannya kepada Badan Standarisasi Nasional, Kementerian Perindustrian Republik Indonesia dan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). []