Membedah Terpilihnya MN KAHMI yang Didominasi Politikus

Munas Korps Alumni HMI (MN-KAHMI) XI di Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah/Net
Munas Korps Alumni HMI (MN-KAHMI) XI di Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah/Net

PELAKSANAAN Munas Majelis Nasional Korps Alumni HMI (MN-KAHMI) XI di Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah telah usai. Terpilih 9 orang Presidium MN KAHMI secara demokratis.

Mereka adalah Ahmad Doli Kurnia Tanjung (417 suara), Ahmad Yohana (343 suara), Herman Khoeron (318 suara), Saan Mustopa (316 suara). Lalu, M Rifqiziny (311 suara), Abdullah Puteh (295 suara), Romo HR (290 suara), Zulfikar Arse (284 suara) dan Soetomo (278 suara).

Raihan suara itu diperoleh ketika Munas KAHMI, membuat sejarah baru dalam proses penghitungan suara menggunakan aplikasi e-Vote. Dari deretan 9 nama itu ternyata mereka berlatar belakang politikus dengan beragam warna partai. 

Bagi saya pribadi keterpilihan mereka itu bukan hal yang mengejutkan, tapi sudah diprediksi sebelumnya. Apalagi momentum Pemilu 2024 menjadi latar belakangnya. Disamping kepentingan mulia untuk membesarkan roda organisasi KAHMI di masa depan.

Terlepas dari semua itu, saya mendapatkan pesan berantai melalui Whatshapp Grup terkait terpilihnya MN KAHMI Periode 2022-2027 yang 100 persen diisi para politikus. 

Kondisi ini jauh berbeda jika dibandingkan jajaran kepengurusan MN KAHMI masa bakti sebelumnya. Dari hasil pengamatan langsung sebagai pendatang baru di Munas KAHMI dan pemilik suara penuh. Setidaknya ada beberapa faktor penentu, mengapa para politikus menjadi kampiun dalam perebutan kursi di tubuh MN KAHMI.

Pertama, mainan politikus. Strategi dan taktik dalam mendulang suara sebanyak mungkin, tak ubah seperti pemilihan calon legislatif. Jadi hal ini bukan barang baru bagi mereka dalam menyusun kekuatan dukungan. Langkah mereka jauh lebih dulu ketimbang puluhan kandidat MN KAHMI  lainya yang bermain di injury time. Bertajuk silaturahmi, langsung para calon dengan para pengurus Majelis Wilayah (MW) dan Majelis Daerah (MD) di seluruh Indonesia sudah dibangun jauh sebelumnya. 

Karena mereka menyadari betul, para pemilik suara ini harus dikondisikan sejak awal dan dikunci saat di pencoblosan suara. Tentunya ini dilakukan bukan hanya sekadar curah ide dan gagasan semata, tapi harus diimbangi dengan "komitmen" yang  jelas. Minimalnya setelah membuka setelah melakukan konsolidasi, ditutup dengan pengamanan suara di lokasi Munas. Sedangkan pola semacam ini tidak dilakukan kandidat MN KAHMI yang berasal dari kalangan birokrat, profesional, akademisi dll.

Kalau pun ada yang bermain di akhir laga. Dan itu tentunya tidak efektif, karena pemilik suara sudah di kunci. Kalau pun ada peserta penuh yang tergoda atau ingkar dari komitmen, itu presentasinya sangat kecil, dan tidak terlalu signifikan. Mereka terpaksa berubah haluan selain masih ada slot yang kosong. Atau memang menyelematkan rombongan lillahita'ala (romli) yang ikut serta sebagai peserta hore di Munas. Kedatangan mereka tentunya harus diselamatkan, terutama dalam menyelesaikan akomodasi maupun tiket pemulangan ke tempat asalnya. 

Akan tetapi menurut saya, bagi para calon yang telah menyisihkan sebagaian rezekinya, jangan dianggap sebagai beban atau terpaksa. Ikhlaskan semua itu, sebagaimana halnya pemberian senior terhadap junior. Ini penting untuk ditanamkan, agar hati para kandidat yang belum beruntung menjadi tenang dan tidak menaruh kebencian yang berlebihan.  Tata kelola semacam ini tidak jauh berbeda saat pemilihan Ketua Umum PB HMI. Ingat, kemenangan ini tercipta bukan dari hasil hadiah atau serba kebetulan, namun sudah terorganisir sejak awal hingga akhir. Pribahasa menyebut, hasil tidak akan mengkhianati usaha.

Kedua Tim Sukses (timses) yang mengakar. Kekuatan finansial yang melimpah tidak menjamin seseorang terpilih dengan meraup suara terbanyak, tanpa dibentuk timses yang terstruktur, profesional, jujur dan solid. Timses sendiri banyak melibatkan jajaran pengurus MW yang langsung bersentuhan langsung, dengan para MD KAHMI di daerahnya masing-masing. Bahkan keterlibatan para senior HMI dari setiap generasi pun menyusup, di luar timses pergerakan tim yang dibentuk. 

Kondisi itu sangat mempengaruhi dalam menjatuhkan pilihan para calon. Gerakan senyap para mantan pemain lama ini, dalam mengkondisikan para MW dan MD se Indonesia gencar dilakukan. Baik dilakukan secara tertutup maupun secara terbuka. Mereka berasal dari para alumni HMI yang memiliki kesemaan warna partai, satu angkatan, teman seperjuangan atau koneksi lainnya.

Ketiga Jualan Tagline Kampanye. Dalam perhelatan ini disamping kekuatan finansial dan timses tak lupa jualan isu kampanye. Alasan ini penting di suarakan, untuk mempengaruhui pola pikir para pemilik suara yang notabene insan intelektual. Namun semua itu akan runtuh, jika ada kesemaan kepentingan pasca terpilihnya Munas. Apalagi yang berkaitan dengan kepentingan simbosis mutualisme di masa depan. 

Dan ini dilakukan mayoritas para politisi. Sehingga pemaparan visi-misi yang panjang lebar tidak menjadi hal yang penting, jika aspek  ini diabaikan. Kalimatnya sedikit, namun mampu mengingat memori calon pemilihnya. Misalnya tagline, Pengamanan Penyelenggara Pemilu 2024 Aman. Atau isu demografis pun perlu digaungkan. Misalnya, kandidat perwakilan asal Jawa Barat, Kalimantan, Putera Daerah, Jawa Tengah, dll. Ini menjadi bahan pertimbangan para pemilik suara menjatuhkan pilihannya di bilik suara.

Keempat Sistem Paket. Dalam sistem presedium ini para calon tidak bisa bermain sendiri. Namun berkolaborasi dengan kandidat lainnya. Karena pemilihan ini bukan ditujukan untuk individu, namun harus dipilih secara bersamaan 9 orang. Maka pemilihan paket itu sangat penting. Untuk saling mengisi peta kekuatan dan kelemahan calon. Apalagi dengan jangkuan MW dan MD yang luas, dan waktu yang terbatas, strategi kolaborasi sangat penting. 

Karena setiap calon itu tidak terlalu kuat, jika harus berhadapan dengan calon lainnya, yang berasal dari tanah kelahirannya. Pola ini diterapkan betul dilakukan oleh 9 MN KAHMI, sehingga mereka unggul dalam perolehan suara Munas di Palu kemarin. Seperti paket pilihan A, pilihan B, pilihan C dst. Mungkin masih banyak faktor penentu lainnya. Namun secara garis besarnya apa yang saya tuliskan ini tidak jauh berbeda dari hasil analisa dan pengamatan abang-abangku. Bahkan mungkin jauh akan lebih tajam lagi pengamatannya, ketimbang saya.

Menyatu dan Melebur

Nasi sudah menjadi bubur. Faktanya alumni HMI berprofesi politikuslah yang unggul. Apapun hasil Munas KAHMI ini harus diterima semua pihak. Karena perhelatan ini sudah dilaksanakan secara demokratis. Kalau pun ada kekurangan itu hal yang biasa terjadi dalam tubuh organisasi. Kalau pun ingin ideal semestinya dalam Munas kemarin ada klausul perubahan AD/ART yang menegaskan, bahwa pimpinan presidium harus berasal dari beragam latar belakang. Tidak didominasi kelompok tertentu. 

Ini menjadi pegangan regulasi, sehingga munas kedepan porsinya sudah jelas. Misalnya dibagi politisi 3, akademisi 3, profesional 3 dan satunya umum. Tapi sayang dalam Munas kemarin, hal ini dilupakan sehingga dalam pertarungan Munas pada 2027 mendatang. Kondisinya tidak akan jauh berbeda seperti saat ini. Selain itu pula, dalam menduduki kursi MN KAHMI itu harus diisi alumni yang telah memiliki kontribusi nyata untuk kemajuan bangsa dan tanah air ini. Ini penting selain kebanggan bagi para alumni, juga para kader HMI yang saat ini tengah menimba ilmu di bangku kuliah.

Terakhir, KAHMI ini yang merupakan bagian dari organisasi paguyuban dan para alumni, tidak lagi bergulat pada siapa yang menang dan kalah. Tapi harus menyatu dan meleburkan diri visi-misi yang telah dibuat oleh semua kandidat. Tidak lagi berbicara kepentingan atau latar belakang, karena kita sesama keluarga besar HMI. Bukan lagi mahasiswa seperti dulu. Bahkan saya mengusulkan jajaran pengurus di MN KAHMI itu semua kandidat dari berbagai kalangan, masuk dalam kabinetnya. Presidium bekerja sebagian besar atas ide dan gagasan rekomendasi dari para alumni berprofesi akademisi, birokrat, profesional dan lain sebagainya.

Akan tetapi, dibalik hiruk pikuk Munas kemarin, setidaknya ada beberapa hikmah yang saya peroleh. Dan tentunya hal ini pun sama dialami rekan alumni lainnya. 

Pertama, bersilaturahmi dengan kawan lama saat menjadi kader HMI. Setelah sekian lama tak berjumpa, kita bisa bernostalgia kembali kenangan masa lalu. Saat itu masih hidup sendiri, kini kita sudah berkuluarga dan menapaki hidup dengan jalan masing-masing. Keadaan ini tentunya tidak akan bisa dinikmati jika melalui wasilah Munas. 

Kedua, Budaya Literasi dan Kajian. Selama kita menyandang predikat mahasiswa, membaca dan menulis serta diskusi menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam memecahkan persoalan. Terlebih saat diskusi itu melibatkan semua alumni dengan berbagai angkatan. Contoh itu saya alami saat rapat dalam menentukan calon yang bakal diusung MW KAHMI Jabar. Itu dilakukan saat orang terlelap tidur  dan menonton perhelatan Piala Dunia 2022. Namun MW dan MD se-Jabar asyik dan menikmati diskusi hingga kumandang adzan subuh. Suasana tidak formal, tidak pula tegang. Namun penuh dengan nuansa kekeluargan dan humor yang mencerdaskan. Kebiasaan untuk berpendapat semacam ini banyak sekali manfaat yang diperoleh.

Oleh karena itu, tentunya ini perlu dibangun dan dilestarikan secara utuh pasca Munas KAHMI tahun ini. Kebersamaan untuk saling mengisi ruang yang kosong, perlu menjadi perhatian KAHMI di berbagi penjuru Tanah Air. Contoh nyata itu pun sudah diperagakan MW KAHMI Jabar, dengan menggalang dana korban Gempa di Cianjur dan peduli terhadap pengurus MD KAHMI yang meninggal dunia, saat akan pergi menuju Munas. 

Ketiga, program KAHMI di kota dan kabupaten tidak lagi berbicara dalam konteks yang lebih luas. Atau berbicara negara, cukup bagaimana memberikan arahan dan membantu kader-kader HMI di cabang maupun di komisiriat, melalui aksi nyata. Karena pada realitasnya, kebanyakan KAHMI kurang peduli ketika HMI membutuhkan uluran tangannya. Namun hal ini terjadi bukan tanpa sebab. Tapi jika kader HMI berbuat layaknya seperti suadara dalam kehidupan berkeluarga.

Tentu jurang pemisah ini tidak akan terwujud. Satu sama lain akan saling membantu dan mengisi. Jika kader HMI membutuhkan bantuan, maka ketika para alumni dalam kondisi harus sama dibantu. Istilahnya bergandengan tangan, untuk saling mendong dan mendukung, bukan saling menjatuhkan antara alumni dengan kader HMI.

Alhamdulillah kondisi semacam ini tidak terjadi, karena KAHMI lebih dewasa dan sudah banyak makan asam garam dalam menggeluti kehidupan ini. Mari kita hilangkan perbedaan dan bergandeng tangan untuk mewujudkan mimpi besar gagasan Lafran Pane. Orang tua kita yang telah mendirikan HMI pada 5 Februari 1947 silam. Yakni  Mempertahankan Negara Republik Indonesia (NKRI) dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia, serta menegakkan dan mengembangkan ajaran Agama Islam,". Itulah buah dari pemikiran beliau yang harus kita jaga dan wujudkan dalam kehidupan nyata. Semoga. []

Penulis adalah peserta penuh MD KAHMI Majalengka, Provinsi Jawa Barat