Pandemi, Resesi, Dan Rokok Buat Masyarakat Kian Miskin

Ilustrasi merokok/Net
Ilustrasi merokok/Net

SEAKAN tidak bisa menerima kenyataan, BPS justru memaparkan bahwa pengeluaran kedua terbesar masyarakat miskin kita itu adalah rokok. Dan yang terbesar pertama adalah beras.


Data tersebut sangat memilukan tentunya. Di tengah lilitan ekonomi yang serbasulit seperti yang terjadi saat ini, justru pengeluaran untuk rokok di atas pengeluaran lainnya.

Bahkan pengeluaran untuk rokok itu setara dengan pengeluaran 4 komoditas bahan pokok seperti telur, gula pasir, daging ayam, dan cabai.

Artinya, jika satu keluarga miskin mengeluarkan kebutuhan rokok, maka rokok tersebut bisa dibelikan 4 komoditas bahan pokok itu tadi. Tentunya sangat miris sekali melihat data seperti itu.

Sejumlah masalah sosial seperti kelaparan, kurang gizi, akses sumber protein yang terbatas, atau melemahnya kemampuan untuk mememuhi sejumlah kebutuhan pokok, bisa jadi akar masalahnya adalah karena ada pengeluaran untuk rokok tersebut.

Jadi saya menilai sulit bagi kita membuat kategori masyarakat miskin, kalau justru masih ada rokok yang menjadi komponen pengeluarannya.

Meskipun saya memahami untuk tidak bergantung pada rokok itu bukanlah perkara yang mudah. Tetapi di tengah kondisi seperti saat ini, sudah semestinya rokok tidak lagi menjadi pengeluaran besar bagi masyarakat kita. Khususnya masyarakat miskin.

Sudah saatnya masyarakat mengurangi konsumsi rokok tersebut. Lakukan secara perlahan, jangan biarkan rokok menyita anggaran rumah tangga kita.

Saat ini kita tengah hidup prihatin dengan kondisi ekonomi yang terpapar pandemi. Banyak yang kehilangan pekerjaan, atau mengalami penurunan pendapatan yang sangat tajam.

Saya yakin kondisi keuangan rumah tangga akan berbeda, jika rokok dikeluarkan dari kebutuhan sehari-hari. Dampaknya akan membuat kualitas hidup masyarakat membaik. Khususnya dari sisi ekonomi.

Artinya memang akan ada banyak dana yang bisa kita pakai untuk memenuhi kebutuhan lainnya, jika pengeluaran untuk rokok itu benar-benar ditiadakan. []

Gunawan Benjamin

Pengamat Ekonomi Di Sumatera Utara