Peluang Ikut Pilpres Tipis, Iriana Jokowi Lebih Realistis Maju Di Pilkada DKI

Ibu Negara Iriana Jokowi/Net
Ibu Negara Iriana Jokowi/Net

Meski menjadi capres terkuat kedua dari kalangan perempuan versi Lembaga Penelitian Masyarakat Milenium (LPMM), namun peluang Ibu Negara Iriana Jokowi mencalonkan diri sebagai presiden pada Pilpres 2024 terbilang tipis.


"Yang mungkin bisa dan sangat realistis adalah mendorong Iriana ke (Pilkada) DKI bertarung dengan Anies Baswedan," kata pemerhati politik Abdul Hamid, Jumat (16/4).

Temuan survei LPMM merilis Iriana memiliki elektabilitas 17,7 persen, dibawah Ketua DPR Puan Maharani.

"Untuk pilpres, bisa saja Puan Maharani dipasangkan dengan Prabowo Subianto," ujar Cak Hamid, sapaan akrab Direktur Visi Indonesia Strategis ini.

Cak Hamid berpandangan, meski Iriana memiliki elektoral yang tinggi, persoalan bukan di situ. Tapi, apakah Presiden Jokowi bisa secara terbuka memajukan sang istri menjadi kandidat di tengah hegemoni Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang sangat kuat.

Menurut Cak Hamid hal itu tidak bisa. Jokowi tetap tidak bisa dibaca sebagai person yang bisa dengan leluasa bermain. Pasalnya, dia tidak punya partai, dan Megawati masih sangat kuat di PDIP.

Ditambah, lanjut Cak Hamid, mimpi keluarga Soekarno untuk berkuasa di negeri ini belum selesai. Megawati masih berkeinginan mendorong putrinya Puan menjadi orang nomor satu di negeri ini.

"Akan tetapi semua masih sangat dinamis, karena pilpres masih jauh. Bacaan-bacaan kemungkinan-kemungkinan, siapa yang maju dan dimajukan masih sangat kasat sekali," tutup Cak Hamid dilansir dari Kantor Berita Politik RMOL.

Lembaga Penelitian Masyarakat Milenium (LPMM) merilis survei terbaru, Rabu (14/4). Temuannya, Iriana Jokowi menjadi capres terkuat kedua dari kalangan perempuan.

Berikut hasil survei LPMM yang digelar pada 26 Maret sampai 8 April 2021: Puan Maharani (20,8 persen); Iriana Jokowi (17,7 persen); Sri Mulyani (15,8 persen); Khofifah Indar Parawansa (14,6 persen); Tri Rismaharini (11,8 persen); dan Grace Natalie (5,2 persen).

Dari 2.000 ribu responden yang diwawancarai melalui sambungan telepon, sebanyak 14,1 persen tidak memilih.[]