Pembangunan Infrastruktur Antariksa

Ilustrasi satelit/Net
Ilustrasi satelit/Net

SEBAGAI warga Indonesia, saya tidak pernah setuju apalagi mendukung program OBOR yang digelorakan oleh Xi Yinping sebagai ungkapan semangat Republik Rakyat China secara Lebensraum menguasai planet bumi minimal dari daratan China sampai ke Eropa.


Program Antariksa

Namun sebagai warga planet bumi yang sedang menguatirkan nasib planet bumi yang terus-menerus dirusak oleh umat manusia dengan dalih pembangunan infra struktur, saya mengagumi program antariksa Republik Rakyat China yang sejak tahun 1992 telah menetapkan strategi perkembangan Tiga Tahap, yaitu mengantar manusia ke luar angkasa dan kembali ke bumi dengan selamat, menerobos sejumlah teknik penting seputar pembangunan stasiun antariksa serta membangun stasiun antariksa yang bermakna, dan menyelesaikan masalah penggunaan ruangan yang berskala relatif besar, dan dipelihara dalam jangka panjang.

Meskipun menghadapi hambatan, misi antariksa Tiongkok tak pernah berhenti, malah mencapai serangkaian prestasi yang menakjubkan seperti penjelajahan bulan, penjelajahan Mars, perakitan jaringan “Beidou” serta peluncuran sukses roket serial Long March.

Kali ini, Tiongkok telah mengayunkan langkah penting dalam misi pembangunan stasiun antariksa permanen, dan mempunyai arti penting bagi dunia.

Karena stasiun antariksa internasional yang sudah beroperasi selama puluhan tahun itu bakal pensiun selama jangka waktu tahun 2024-2028 mendatang, saat itu stasiun antariksa Tiongkok akan menjadi stasiun antariksa umat manusia satu-satunya di luar angkasa.

Planet Baru

Stasiun antariksa Tiongkok adalah yang pertama terbuka bagi semua negara anggota PBB . Stasiun antariksa Tiongkok tidak hanya terbuka untuk global dan sangat inklusif, obyek kerja samanya tidak hanya mencakup pemerintah dan organisasi internasional, tapi juga terbuka bagi lembaga swasta dan lembaga penelitian. Pola kerja samanya pun beraneka ragam.

Sejauh ini pekerjaan seleksi proyek uji coba sains antariksa gelombang pertama yang dilakukan di dalam stasiun antariksa Tiongkok sudah diselesaikan Tiongkok bersama PBB.

Sejumlah 9 proyek yang disponsori 17 negara dan 23 lembaga dengan sukses terpilih dan sedang dalam persiapan pelaksanaan. Kerja sama stasiun antariksa Tiongkok sepenuhnya mempertimbangkan kebutuhan negara-negara berkembang yang kekurangan teknologi dan dana, serta menyediakan peluang akses luar angkasa dan mengadakan berbagai uji coba praktek untuk mereka.

Hal tersebut akan membantu dunia melintasi kesenjangan perkembangan teknologi, dan membuat semua negara

secara adil berpartisipasi ke dalam penggunaan dan eksplorasi antariksa untuk tujuan damai.

Apabila segenap pemberitaan itu benar adanya, maka sebagai warga Indonesia, besar harapan saya bahwa para imuwan dirgantara dan antariksa Indonesia dapat berperan-serta dalam bekerja sama dengan Republik Rakyat China dalam penggunaan dan eksplorasi antariksa untuk tujuan damai demi pembangunan infra-struktur bagi permukiman masa depan bagi umat manusia di planet-planet lain di galaksi Bima-Sakti.

Dapat dianalogikan bahwa apa yang dilakukan oleh Christopher Columbus dalam upaya mencari benua baru untuk permukiman masyarakat Eropa kini dilakukan oleh Republik Rakyat China dalam upaya membangun infra struktur antariksa untuk membangun permukiman umat manusia di masa depan.

Insya Allah, jangan sampai dalam bersemangat memperluas wilayah kekuasaan akhirnya RRChina melakukan angkara murka yang sama saja dengan yang dilakukan oleh para pendatang dari Eropa ke Amerika. Atau Hitler dan Hirohito. []

Jaya Suprana

Budayawan