Pencegahan Covid-19 Berbasis Komunikasi Keluarga

Ilustrasi/Net
Ilustrasi/Net

TIDAK efektifnya pencegahan Covid-19 di Indonesia salah satunya adalah hilangnya keluwesan membentuk komunikasi persuasif. Komunikasi yang menyadarkan. Dan kesadaran itu bisa terbentuk melalui saluran komunikasi keluarga.


Pandemi Covid-19 mentransfer perilaku stress hampir ke banyak lapisan masyarakat dari berbagai kalangan. Perilaku stress ini tentunya tidak hanya terjadi bagi penderita Covid-19, namun juga masyarakat pada umumnya.

Perilaku stress ini beragam rupa dan tingkatannya. Ada yang berupa kepanikan, sikap anti sosial yang berlebihan dan sampai tingkat stress yang akut.

Tingkatan yang paling ekstrem yaitu perilaku stress yang akut tentunya tidak hanya didorong oleh satu faktor saja seperti kondisi pikiran atau situasi hati.  Namun juga tekanan ekonomi yaitu pendapatan yang tak menentu bahkan mengalami kebangkrutan usaha.

Bagi pegawai kantoran kejadian yang paling radikal, terganggunya pendapatan ekonomi di saat pandemi. Misalnya, terkena PHK. Menurut Andreasen N.C. pakar psikiatri, perilaku stress dipicu oleh lingkungan, diri sendiri, dan pikiran.

Pemerintah melalui Jubir Pemerintah untuk Covid-19, Wiku Adisasmito, merilis layanan psikologi sejiwa atau sehat jiwa dengan menghubungi hotline 119 ext 8. Hal ini didasari karena banyak keluhan di masyarakat mengenai kekhawatiran, kecemasan, ketakutan atau stress.

Masih hangat di layar televisi kita berita sepasang suami istri selebritis Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie yang tertangkap karena menggunakan narkoba.  Mereka pun berdalih karena stress hadapi tekanan Covid-19. Uang berlimpah dan popularitas, kok bisa tetap stress? Sebagian fakta-fakta ini menandakan bahwa energi perilaku stress bisa hinggap pada siapa saja.

Di era digital informasi seperti sekarang ini perilaku stress tersebut bisa diidentifikasi dengan kacamata penggunaan media sosial. Maksudnya ialah aktivitas masyarakat dalam penggunaan gadget untuk menghimpun informasi mengenai Covid-19 bisa menjadi salah satu pemicu lahirnya perilaku stress. Gadget sudah menjadi gaya hidup dan culture personality (budaya diri) yang tidak bisa lepas dari genggaman manusia. Gadget merupakan sarana komunikasi, belajar dan hiburan.

Arus informasi mengenai Covid-19 yang hilir mudik di media sosial seperti whatsapp, telegram, facebook, twitter dan lain-lain memberikan corak informasi yang beragam. Setidaknya ada empat jenis corak informasi. Pertama, informasi yang datang dari institusi formal (pemerintah). Kedua, informasi mazhab konspirasi. Ketiga, informasi hoax, dan keempat, informasi yang berkadar ilmiah. Keempat jenis informasi mengenai Covid-19 ini tentunya akan melahirkan kebingungan di masyarakat dan menjadi embrio lahirnya perilaku stress.

Kebingungan tersebut didasari karena marak dan masifnya sajian informasi mengenai Covid-19. Ada situasi dimana masyarakat diajak untuk tidak mempercayai Covid-19 lalu menghubung-hubungkan secara abstraktif dengan koneksi kepentingan global. Jenis ini termasuk kepada informasi mazhab konspirasi.

Ada juga situasi dimana masyarakat mendapatkan informasi yang saling bertabrakan satu sama lain. Semisal, pemerintah menggiatkan kampanye penggunaan masker. Di sisi lain, ada ‘pakar dadakan’ berbicara melalui video bahwa masker itu tidak penting digunakan. Kompleksitas informasi di media sosial tersebut mengakibatkan orang menjadi bingung arah dan ragu terhadap pagu pedoman pencegahan Covid-19.

Penanganan terhadap kesemrawutan informasi di media sosial perlu dihadirkan dalam rangka meminimalisir orang-orang berperilaku stress. Salah satunya melakukan pencegahan Covid-19 berbasis komunikasi keluarga. Menjadikan keluarga sebagai basis utama pencegahan sekaligus kontrol informasi mengenai Covid-19.

Seperti seorang anak remaja menjadi brutal gara-gara menonton tayangan tinju maka orangtua harus berperan aktif untuk menyadarkan sikap brutal tersebut. Artinya kebrutalan informasi Covid-19 ini harus dikontrol dengan baik oleh komunikasi yang menyentuh dari keluarga.

Menurut Jenys and Kelly, komunikasi merupakan suatu proses di mana seseorang (komunikator) menyampaikan stimulus (biasanya dalam bentuk kata-kata) dengan tujuan mengubah atau membentuk perilaku orang lain (khalayak).

Dalam konteks komunikasi keluarga, mengubah perilaku tersebut tentunya diupayakan dengan cara-cara yang lebih humanis, mengingat khalayak atau komunikan yang menjadi sasaran penyampaian pesan adalah anggota keluarga sendiri. Cara-cara yang destruktif justru akan melemahkan relationship antar anggota keluarga.

Pencegahan Covid-19 dengan mengedepankan prinsip komunikasi keluarga tentunya akan menghadirkan suasana yang lebih menenangkan dan saling menguatkan ketimbang memakan semua jenis corak informasi mengenai Covid-19 di media sosial.

Konten pesan yang mesti tersampaikan dalam proses komunikasi keluarga ialah penguatan protokol kesehatan, karena hanya inilah senjata pertahanan dalam menghadang virus Covid-19. Selama ini secara formal pola komunikasi pencegahan Covid-19 itu top to down dari pemerintah ke masyarakat, hadirnya komunikasi keluarga ini adalah upaya membuka jalan baru pencegahan Covid-19 dengan alur down to up dari kesadaran akar rumput menuju kesadaran kolektif nasional.

Relawan-relawan satgas dibentuk sampai struktur RT dan RW namun pemerintah jarang sekali memandatkan peran Satgas Covid ke anggota-anggota keluarga (ayah sebagai kepala keluarga, misalnya).

Pencegahan Covid-19 berbasis komunikasi keluarga ini bertujuan untuk dua hal. Pertama meminimalisir sampai menganulir sampah-sampah informasi mengenai Covid-19. Kedua, mengefektifkan pencegahan Covid-19 karena komunikasi keluarga memiliki kadar efektifitas komunikasi yang tinggi dengan pondasi semangat harmonisasi dan humanis. Jika ada anggota keluarga lain berkeliaran ke luar rumah sementara kondisi sedang PPKM, maka hanya anggota keluarga lainnya yang pantas mengingatkan begitupun persoalan penggunaan masker, pengkondisian jarak dan pedoman protokol kesehatan lainnya.

Bentuk lain dari komunikasi keluarga sejatinya adalah komunikasi persuasif. Menurut Bettinghause, sifat persuasif harus mengandung upaya yang dilakukan dengan sadar untuk mengubah perilaku orang lain atau kelompok.

Tidak efektifnya pencegahan Covid-19 di Indonesia salah satunya adalah hilangnya keluwesan membentuk komunikasi persuasif, komunikasi yang menyadarkan. Dan kesadaran ini bisa terbentuk melalui saluran komunikasi keluarga.

Perlu diketahui bahwa informasi multi perspektif dan beragam corak yang datang di Whatsapp grup, tayangan- tayangan di facebook dan lainnya bisa membuat kita pusing dan stress.

Membangun komunikasi keluarga dalam rangka pencegahan dan penguatan psikis masyarakat adalah cara terbaik untuk membentuk kewarasan bersama dan kesehatan bersama. Bangunlah jaringan-jaringan komunikasi keluarga di masa pandemi ini dengan berpatok pada proporsionalitas, rasionalitas dan spiritualitas. Sehingga keluarga menjadi vitamin terbaik dalam menghadapi bencana kesehatan ini. []

Muhammad Ersyad Muttaqien, S.Kom.I, M.I.Kom.

Dosen Ilmu Komunikasi di Fisip Universitas Pasundan Bandung