Pendorong Kesadaran Kaum Perempuan Lepas dari Cengkraman Kapitalisme

R.A. Kartini merupakan seorang pahlawan nasional yang dikenal dengan jasa-jasanya dalam memperjuangkan hak-hak kaum wanita yang kemudian disebut emansipasi wanita.


Tidak mengartikannya secara tendensius, Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia, dalam menanggapi momentum Hari Kartini yang jatuh pada hari ini (Kamis 21/4) sebagai langkah strategis dalam upaya penyadaran kaum perempuan terhadap akar problema, yakni kapitalisme.

Kesetaraan gender dan hak kaum wanita secara hakiki masih jauh dari kata pencapaian. Meskipun sistem proporsional yang ditetapkan pemerintah dinilai lebih mengakomodir unsur keterwakilan perempuan, namun masalah akuntabilitas tetap menjadi faktor penting dalam hal keterlibatan perempuan di ruang publik maupun pandangan sosial.

Dalam hal ini pemerintah turut serta dalam pengekangan hak perempuan. Di balik itu semua ada sistem yang mengatur pergulatan konsepsi ini, kapitalisme turut andil besar dalam mekanismenya.
Sedikit kebebasan yang diiming-imingi para pemain politik dalam memancing perempuan untuk digunakan sebagai sampul parlemen memberikan pengertian bahwa usaha pembebasan yang diberikan kepada perempuan tidak secara harfiah, melainkan hanya untuk mengakumulasi modal semata.

Tidak cukup pada pemanfaatan kemampuan, fisik perempuan yang dieksploitasi juga turut menempel dipelupuk mata masyarakat. Ini merupakan jembatan pandangan buruk masyarakat yang menjadi pemicu terjadinya diskriminasi dalam lingkup sosial.

Dalam hal ini, kami hadir dalam analisa yang tegas dan lugas, bagaimana perjuangan perempuan dalam melawan kapitalisme dengan perebutan alat produksi yang seyogyanya tidak bisa terpisah dari tenaga produksi. Namun, pada hakikat yang sedalam-dalamnya, tidak ada pemisahan antara laki-laki dan perempuan.

Sebagaimana yang dikatakan Bung Karno, “Laki-laki dan perempuan bak sepasang sayap merpati. Berjuang dan bergerak bersama tanpa kenal gender, perjuangan pokok perempuan yaitu membebaskan perempuan dalam ketertindasan guna membentuk dunia baru."

Karena berbicara mengenai perempuan juga berbicara tentang sosialisme. Jika senjata melawan kebodohan adalah kepalan pena di atas kertas, maka senjata melawan ketertindasan adalah kepalan tangan diatas kepala. Hidup perempuan berlawan!

Oleh Humas DPC GMNI Samarinda, Sarinah Ipung