Pesan Tunas 98: Penjabat Gubernur DKI Harus Bisa Meredupkan Polarisasi 

Balai Kota DKI Jakarta/Net
Balai Kota DKI Jakarta/Net

Pilkada DKI Jakarta 2017 ternyata masih menyisakan polarisasi yang terus memancar dalam bursa kandidat Penjabat Gubernur DKI Jakarta pengganti Anies Baswedan. 


Pasalnya, dari dua dari tiga kandidat yang sudah disetorkan DPRD DKI Jakarta ke Kemendagri, yaitu Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono dan Sekretaris Daerah DKI Jakarta Marullah Matali berpotensi mengembalikan memori publik pada kondisi Pilkada DKI 2017, dimana keduanya dianggap sebagai representasi pendukung  Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok atau Anies Baswedan.

Ketua Tunas 98 Feko menilai dinamika tersebut tentunya mengundang keprihatinan banyak pihak.

Feko mengaku khawatir apabila nantinya Pj Gubernur DKI Jakarta yang dipilih Presiden Joko Widodo bukannya meredupkan malah memperparah polarisasi di tengah massyarakat.

"Dikhawatirkan iklim politik semakin berat bahkan tidak kondusif," kata Feko dalam keterangannya, Senin (26/9).

Feko mendorong Mendagri Tito bisa memberikan pertimbangan dan masukan yang komprehensif kepada Presiden Jokowi ihwal pengganti Anies Baswedan. 

"Sebab kepiawaian Pj Gubernur DKI sangat menentukan iklim politik di Jakarta secara khusus dan jelang tahun politik nasional 2024," kata Feko.

Feko berharap Pj Gubernur DKI yang terpilih bisa mempertahankan harmonisasi dan kenyamanan warga Jakarta," kata Feko.

Berkaca dari itu semua, Feko melihat Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri Bahtiar Baharuddin merupakan sosok yang netral dan dibutuhkan warga Jakarta.

"Apalagi Bahtiar pernah punya pengalaman sebagai Pjs Gubernur Kepulauan Riau," kata Feko. 

"Bahtiar juga diharapkan mampu membawa Jakarta tetap tumbuh dan harmonis sesuai dengan visi dan misi Presiden Jokowi," sambungnya. []