Polri: Bubuk Putih di Markas FPI Bahan Peledak, Bukan Pembersih Toilet

Kabagpenum Divisi Humas Polri, Kombes Ahmad Ramadhan/Istimewa
Kabagpenum Divisi Humas Polri, Kombes Ahmad Ramadhan/Istimewa

Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) mengungkap hasil pemeriksaan dari Puslabfor Polri terkait barang-barang yang ditemukan saat penggeledahan eks Markas FPI di Petamburan beberapa hari lalu. 


Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri, Kombes Ahmad Ramadhan menyampaikan, barang-barang yang ditemukan dari Markas FPI itu merupakan bahan kimia pembuat bom. 

Ahmad Ramadhan menjelaskan, setidaknya ada tiga bahan kimia yang berhasil ditemukan oleh aparat dalam penggeledahan pada Selasa (27/4) lalu itu. 

"Satu bahan kimia yang berpotensi digunakan sebagai bahan baku pembuatan bahan peledak TATP," katanya dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jumat (30/4). 

TATP sendiri adalah Triacetone Triperoxide, yaity senyawa peroksida yang sangat mudah meledak. TATP tergolong sangat mudah meledak dan berbahaya hingga dijuluki "mother of satan" atau "ibunya setan".

Ahmad Ramadhan melanjutkan, temuan kedua adalah bahan kimia yang mudah terbakar dan rentan digunakan sebagai bahan pembuat bom molotov. 

"Tiga, bahan kimia yang merupakan bahan baku peledak TNT," imbuhnya. 

Cairan dan bubuk putih itu, kata Ramadhan, dimasukkan ke dalam botol cairan pembersih toilet. 

"Ini botol yang diisi dengan bahan. Salah satunya atau ada di antaranya pembersih toilet," tgasnya. 

Penjelasan Ahmad Ramadhan ini seakan membantah klaim yang menyebut barang yang ditemukan polisi dari Markas FPI adalah bahan pembersih toilet. 

Salah satu klaim ini disampaikan oleh pengacara eks Sekretaris Umum FPI, Munarman, Hariadi Nasution. Hariadi yang tergabung dalam Tim Advokasi Ulama dan Aktivis (Taktis) mengatakan yang ditemukan oleh pihak kepolisian adalah deterjen dan obat pembersih toilet.

Menurut Hariadi, barang-barang itu dulu biasa digunakan untuk kerja bakti membersihkan tempat wudhu dan toilet di sejumlah masjid dan musala. 

Diketahui, penggeledahan Markas FPI sendiri merupakan buntut dari penangkapan Munarman di kediamannya di Tangerang Selatan. Munarman diduga terlibat terorisme, dengan menghadiri kegiatan baiat ISIS di tiga tempat yaitu Jakarta, Medan, dan Makassar. []