Posko Banjir Anies-Sandi Luar Biasa

LUAR BIASA, banjir 21 Februari 2017 membuktikan kebesaran hati Anies Sandi dan relawan ASA. Anies berpesan bantu korban banjir, apa pun afiliasi mereka di pilgub kemarin.


RT Encuk dari Penjaringan, baru punya bayi hari minggu kemarin. Diberi nama "ANISSA". Akronim Anis Sandi. Dia kirim pesan WA:

"Bang kapuk muara perlu dibantu banjirnya dalam di jalan rayanya saja 80cm. Di perkampungannya sampai 1,80 meter."

Saya forward ke Abdoel Kholik, die-hard Anies Sandi. Dia sebar pembukaan posko banjir "Roema Djoeang", tim relawan Partai Gerindra.

Kholik langsung respon. Padahal kita semua tau, Kapuk Muara basis Ahok. Di pilgub 15 Februari, Ahok dulang kemenangan mutlak di sana. Ngga masalah juga, bila nanti mereka masih tetep coblos Ahok. Yang penting sekarang dibantu dulu.

Namun, ini masalah banjir. Ngga ada urusan dengan pilgub. Seperti kata Anies, apa pun afiliasinya harus dibantu.

Front Pembela Islam (FPI) sudah dirikan banyak posko banjir. Detiknews merilis berita "Jakarta banjir dengan curah hujan di atas 50 mm dalam 24 jam. Curah hujan ini masih lebih kecil dibanding masa banjir Jakarta 2007, 2013 dan tahun 2014."

Hanya 50 mm dalam 24 jam, tapi ada 100 lebih titik banjir di Jakarta. Artis Sophia Latjuba bilang, it's fine, Jakarta belum tenggelam. Payah banget komentarnya. Sudah ada dua orang tewas akibat banjir ini. Seorang wartawan dan ibu rumah tangga kesetrum aliran listrik kena air.

Belum lama para hoaxer, buzzer, ahoker sarap berkicau di twitter. Bagai cucak rowo sarap. Mereka bilang, Jakarta ditimpah hujan kok ngga banjir-banjir. "Masih berani bilang Ahok gagal?" ledek para Hoaxer itu.

Di saat relawan Anies Sandi, FPI dan banyak komponen bergerak bikin posko banjir, para ahoker tetep berisik di sosmed. Tuding-tuding dan fitnah Anies sebagai Islam Radikal. Boro-boro bikin posko. Nggak peduli dengan banjir dan puluhan ribu korban. Mereka memang autis. Saya menduga, proyek betonisasi Ahok berperan penting membanjirkan Jakarta. ***

Oleh Zeng Wei Jian
Aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (KOMTAK)