Prabowo dalam Perspekfif Menuju 2024

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto/Net
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto/Net

TIGA kandidat Capres 2024 sudah dideklarasikan meski syarat Presidential Threshold belum mencukupi, kecuali Prabowo Subianto.

Namun bursa suara publik hari ke hari semakin ramai, saling menjagokan dan pro kontra pun semakin menghangat. Tetapi bahwa masyarakat lebih fokus pada mencari nafkah ekonomi dan usaha saat ini masih dominan ketimbang urusan pilpres ini. 

Meskipun demikian, tetap mencuat harapan rakyat adalah siapakah pemimpin yang paling tepat membereskan segala permasalahan bangsa yang diwariskan Pemerintahan Jokowi, khususnya sektor ekonomi, hukum, politik dan moral integritas pemerintahan yang akan datang.

Bicara kepemimpinan, di antara ketiga kandidat di atas, kita mencatat Anies dan Ganjar perspektifnya sebagai pemimpin skala daerah dan Prabowo perspektifnya sebagai pemimpin skala nasional karena memimpin kementerian. 

Perspektif ini sedikit banyak memperlihatkan karakter dan pola leadership yang berbeda, karena faktor tugas yang diemban masing-masing kandidat. Masyarakat semestinya menjadikan hal ini sebagai tolok ukur secara mendalam. 

Catatan menunjukan bahwa Anies bisa menjadi Gubernur tak terlepas dari dukungan penuh Prabowo selaku Ketua Umum Partai Gerindra yang sempat 'direndahkan' oleh Anies saat menjadi Timses Jokowi. Hal ini menunjukan kebesaran jiwa Prabowo selaku seorang pemimpin partai besar.  

Maka tidaklah heran ketika dengan tegasnya Anies mengatakan tidak akan menjadi lawan Prabowo selagi beliau sebagai kandidat capres. Bila saat ini kenyataan menjadi berbeda maka tentu menjadi catatan tersendiri bagi rakyat. 

Berbeda dengan karakter Anies, meskipun ada persamaan adalah apa yang diperlihatkan Ganjar terhadap sikap partainya,  ketidakpatuhannya menuai surat peringatan. Hal ini tentunya karena 'lain kata lain sikap' yang diperlihatkannya. 

Kembali pada Prabowo yang juga sempat menuai sebutan 'pengkhianat' oleh para pendukungnya gegara bersedia bergabung menjadi bagian Pemerintahan Jokowi sebagai Menhan. 

Tampaknya sebagian kelompok pendukung Prabowo yang merasa demikian  tidak melihat balik ke dalam pilihannya untuk memaknai arti bersama timbul tenggelam.

Karena sejatinya Prabowo dalam upayanya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa ini seperti yang selalu menjadi seruan utamanya di berbagai kesempatan berbicara, meski kekalahan itu terasa sangat pahit, tetapi Prabowo tidak boleh dibiarkan tenggelam. 

Tentu saja rakyat yang memiliki pengertian dan memahami serta mencintainya sudah pasti tidak akan rela membiarkan sang pemimpin tenggelam dalam kepasrahannya belaka.

Oleh karena itu pilihan Prabowo untuk menjaga amanat perjuangannya dengan bersedia menjadi bagian pemerintahan lawan politiknya adalah cara lain seorang ksatria yang tak mau sekali lagi, negeri dan bangsanya tenggelam dalam perpecahan. 

Dalam konteks ini kita patut kagum, Prabowo adalah sosok pemimpin bangsa yang telah mampu mengalahkan dirinya sendiri. Sedikit sekali pemimpin dunia dengan jiwa besar demikian. Salut. 

Terbukti kepemimpinan Prabowo di Kemenhan telah  menunjukan cahaya kejayaan Indonesia dari sistem pengelolaan pertahanan negara yang terkini, sophisticated dan sangat membanggakan. 

Jadi kepentingan mengurus bangsa dan negara dari sisi kehormatan dan kedaulatan  telah dilakukan sebagian oleh Prabowo Subianto, kini ada sebagian lagi yang menunggu untuk diselesaikan oleh dirinya bagi bangsa dan negara kita tercinta ini. 

Dan untuk itu rakyat perlu dan harus diajak bersama-sama menjaga proses demokrasi perjalanan beliau menuju amanat rakyat memimpin egeri tercinta ini. []

Penulis adalah pemerhati sosial politik