Prediksi Jakarta Tenggelam, Presiden Amerika Jarang Ngobrol dengan "Anak Menteng"?

Direktur Eksekutif The Indonesian Democracy Initiative (TIDI), Arya Sandhiyuda/Net
Direktur Eksekutif The Indonesian Democracy Initiative (TIDI), Arya Sandhiyuda/Net

Wilayah Jakarta diprediksi bakal tenggelam dalam kurun waktu 10 tahun ke depan. Untuk itu, Pemerintah Indonesia disarankan segera memindahkan ibu kota ke wilayah yang lebih aman dari Jakarta. 


Demikian kiranya prediksi yang disampaikan Presiden Amerika Serikat, Joe Biden dalam satu kesempatan. Prediksi tersebut, sontak viral dan menjadi salah satu pemberitaan dalam negeri pada beberapa hari terakhir. 

Menurut Direktur Eksekutif The Indonesian Democracy Initiative (TIDI), Arya Sandhiyuda, pernyataan Biden itu menandakan kurangnya asupan informasi tentang Indonesia. 

Arya menduga, Biden tidak mendapatkan informasi tentang Indonesia dari orang yang paham negeri ini. Sehingga, dimensi pemahamannya terhadap Indonesia hanya mengandalkan referensi teks ketimbang konteks. 

Salah satu nama yang disinggung Arya, yang bisa memberikan informasi lebih akurat kepada Biden adalah Presiden AS ke-44, Barack Obama. Diketahui, Obama pernah tinggal dan mengenyam pendidikan di Jakarta, tepatnya kawasan Menteng sehingga dijuluki "Anak Menteng". 

"Presiden Biden mungkin sudah jarang ngobrol dengan  Presiden Obama, sang "Anak Menteng"," kata Arya dalam keterangan pers yang diterima redaksi, Minggu (1/8). 

Arya cukup memaklumi kurangnya informasi tentang Indonesia pada diri Biden. Pasalnya, perhatian Amerika terhadap Indonesia tidak sebesar perhatian mereka kepada India atau China. 

Secara khusus, Arya menyebut perhatian utama Biden di Asia Pasifik adalah kepada China. Negeri Tirai Bambu ini oleh Biden tidak hanya dilihat sebagai "great power", namun juga sebagai kompetitor hegemonik Amerika. 

"Kalaupun ada negara lain di Asia, yang lebih banyak diperhatikan adalah India negara yang paling diharapkan bisa melakukan encirclement (pengepungan) terhadap meluasnya kepentingan Tiongkok," tandas Doktor Ilmu Politik dari Istanbul University ini. 

Selain soal minimnya asupan informasi tentang Indonesia, Arya menilai pernyataan Biden itu juga menandakan bangkitnya komitmen Amerika terhadap isu perubahan iklim. Diketahui, Amerika sempat abai dalam isu ini pada masa pemerintahan Presiden Donald Trump. 

Meski demikian, mengaitkan isu perubahan iklim dengan pemindahan ibu kota Indonesia agak tidak nyambung. Pasalnya, kata Arya, dalam rencana pemindahan ibu kota tidak pernah ada alasan karena Jakarta bakal tenggelam dalam 10 tahun mendatang. 

Hal itu diperkuat dengan status Jakarta yang akan tetap menjadi tulang punggung ekonomi nasional meski ibu kota sudah dipindah. Sehingga, memprediksi Jakarta tenggelam secara fisik, berarti memprediksi Indonesia bakal tenggelam secara ekonomi. 

Namun begitu, Arya menilai apa yang disampaikan Biden cukup menjadi peringatan dini untuk lebih waspada pada sejumlah isu dunia, termasuk perubahan iklim dan pemanasan global.

"Ini alarm dan wake-up call terhadap semua pihak di Indonesia agar tidak mengesampingkan isu lingkungan dan perubahan iklim. Baik di Jakarta secara khusus ataupun Indonesia secara umum," pungkasnya. []