Produk Indonesia Harus Jadi Tuan di Negeri Sendiri 

Agustinus Tetiro/Ist
Agustinus Tetiro/Ist

INDONESIA dengan jumlah penduduk 275,36 juta jiwa adalah pasar yang besar bagi produk-produk kebutuhan dasar dan kebutuhan tambahan. 

Saat ini Indonesia didominasi oleh penduduk kategori produktif (usia 15-64 tahun) sebanyak 190,82 juta jiwa atau 69,30 persen. Besarnya jumlah penduduk dari kalangan warga usia produktif ini bisa menjadi katalis positif untuk pemasaran produk-produk lokal dan domestik. 

Ajakan untuk menggunakan produk-produk dalam negeri sangat beralasan di tengah ketidakpastian ekonomi global seperti saat ini. Pemulihan pasca pandemi Covid-19 dan instabilitas geopolitik global karena perang Rusia-Ukraina telah mengganggu ekonomi dunia, khususnya rantai pasok bahan pangan global. 

Tidak bisa dipungkiri, masing-masing negara di dunia saat ini saling bergantung satu sama lain dalam suatu relasi bisnis dan ekonomi yang bisa melengkapi satu sama lain.  

  

Indonesia mempunyai harapan lain di tengah kondisi ketidakpastian dan potensi resensi dunia seperti saat ini. Dengan gencarnya usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang telah dibangun selama ini, Indonesia mempunyai satu cara lain untuk mendukung ekonomi dalam negerinya: memastikan produk-produk lokal/domestik diserap oleh pasar dalam negeri yang memang telah diketahui potensial. 

Ada sejumlah alasan mengapa kita perlu mencintai produk buatan Indonesia.  Pertama, kita terlibat dalam mendukung dan mengembangkan UMKM lokal. 

Salah satu contoh inovatif adalah yang dilakukan Pj Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono yang berkomitmen untuk terus memperkuat eksistensi dan memperluas daya jelajah UMKM di DKI Jakarta. 

DKI Jakarta melalui program Jakpreneur telah membina dan mencetak kurang lebih 300.000 anggota wirausaha. Ke depan, para pelaku usaha diharapkan akan terus bertambah, baik secara kuantitas maupun kualitasnya untuk kemajuan sektor ekonomi Indonesia.

Salah satu kegiatan yang menjadi stimulun bagi UMKM DKI Jakarta adalah gelaran bazaar UMKM. Bazar UMKM yang digelar di Balai Kota DKI Jakarta pada 1 dan 2 November 2022 terbukti meningkatkan penghasilan para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) hingga 80%. 

Kedua, dengan mendukung produk dalam negeri, kita turut serta dalam membuka lapangan pekerjaan bagi warga lain atau sesama. Ancaman resesi tahun depan di sejumlah negara tentu saja akan mengakibatkan sejumlah kebijakan pemotongan kontrak kerja karyawan dalam jumlah yang banyak. 

Para pekerja ini harus mempersiapkan diri untuk menjadi usahawan kecil yang bergerak di skala ekonomi mikro dan kreatif yang bisa menyasar pasar dalam negeri. 

Jika DKI Jakarta saat ini bisa membina 300 ribu wirausahawan, maka ada potensi setiap wirausahawan itu mempekerjakan 2 hingga 3 karyawan. Ini merupakan salah satu cara untuk menyerap gelombang PHK yang akan terjadi.  

Ketiga, mencintai produk buatan Indonesia berarti kita telah bertindak secara ekonomis, karena kita bisa memperolah produk berkualitas dengan harga yang murah. 

Produk-produk Indonesia tidak kalah bersaing dengan produk-produk luar negeri. Kunjungan para pemimpin dunia G20 ke Bali yang mengapresiasi sejumlah produk Indonesia adalah bukti kalau kualitas produk Indonesia bisa berbicara banyak di kalangan bisnis global. 

Begitu juga masuknya sejumlah produk bola dan jersey buatan Indonesia ke Piala Dunia Qatar 2022 adalah bukti pengakuan dunia terhadap kualitas produk Indonesia. 

Keempat, dengan menggunakan produk buatan Indonesia, kita telah mendukung perekonomian dalam negeri. Jumlah investasi dalam negeri bisa meningkat tajam. 

Optimisme ini sudah berada di jalur yang tepat. Hal ini terbukti dari pertumbuhan penanaman modal dalam negeri (PMDN) hingga September 2022 yang sebesar 26,1% year-on-year (yoy) menjadi Rp413,1 triliun. Penguatan PMDN yang berkelanjutan penting bagi Indonesia untuk memperlihatkan kepada dunia tentang prospek dan stabilnya kondisi ekonomi-politik kita. 

Kelima, dengan menggunakan produk-produk dalam negeri, kita telah membantu negara mempromosikan produk buatan Indonesia agar semakin dikenal oleh pasar internasional.

Hadirnya sejumlah figur publik dan para pejabat publik yang memberikan testimoni bangga menggunakan produk Indonesia adalah sebuah inisiatif dan terobosan yang harus selalu didukung. 

Dalam konteks Jakarta, ajang pemilihan Abang-None DKI Jakarta belum lama ini adalah sebuah kegiatan yang berdampak besar bagi promosi produk-produk dalam negeri khususnya khas buatan DKI Jakarta. Dengan jumlah followers yang gigantis di setiap akun media sosial Abang dan None, promosi mendapatkan jalan yang lebih efisien dan efektif. 

Demikian sejumlah alasan mengapa kita perlu mengambil bagian dalam gerakan cinta produk Indonesia. Mencintai produk Indonesia tidak perlu dibayangkan sebagai sesuatu yang harus selalu mahal dan luar biasa. Kita bisa membangun suatu kebiasaan baik (habitus) mulai dari diri sendiri dan lingkungan sekitar kita. 

Misalnya, pertama, kita rutin mengajak keluarga atau sahabat untuk membeli dan menggunakan produk buatan Indonesia. Bahan makanan khas Indonesi tentu saja lebih pas di lidah kita dan lebih ramah di kantong kota daripada harus menahan gengsi makan menu dari luar negeri di tempat-tempat yang mahal. 

Kedua, kita harus mencari tahu tentang berbagai produk lokal dan mencantumkannya ke dalam daftar belanja. Dalam rencana belanja bulanan kita, pastikan kita membuat suatu nota belanja yang memasukan produk-produk lokal sebagai pilihan utama.

Sabun, perlengakapan mandi, alat-alat dapur dan bumbu, dan lain-lain produk Indonesia bisa menjadi pilihan kita ketika ke pasar modern atau tempat belanja lainnya. Kita perlu membiasakan diri menggunakan produk dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ketiga, bergabung dengan komunitas yang menyediakan informasi mengenai berbagai produk lokal. Di era digital seperti saat ini, pembentukan kelompok-kelompok minat kategorial di media sosial menjadi hal yang lumrah. Kita bisa masuk ke kelompok-kelompok pencinta produk Indonesia untuk saling berbagi informasi, cerita dan inspirasi tentang ide-ide kreatif bagi produk dalam negeri.

Keempat, kita bisa mengapresiasi produk lokal dengan cara menyebarkan pengetahuan tentang produk atau usaha lokal dan mempromosikannya di akun media sosial pribadi. Media sosial adalah wahana yang murah, mudah dan cepat. 

Kita perlu mengambil langkah konkret untuk mencintai produk dalam negeri. Langkah ini  penting, karena memenuhi sejumlah harapan hidup Bersama. Dari sisi ideologis-politis, kita memperlihatkan jiwa nasionalisme. 

Dari sisi kultural, kita mengambil bagian untuk memperkenalkan kekayaan budaya nusantara. Dari perspektif ekonomi-bisnis, kita membantu negara melewati resesi global dan memastikan ekonomi kita tetap jaya. []

Penulis adalah pengamat kebijakan politik GMT Institute, Jakarta