Pulihkan Ekonomi Nasional, Kemendag Dorong Peningkatan Ekspor Nonmigas

Tumpukan peti kemas di salah satu pelabuhan di Indonesia/Net
Tumpukan peti kemas di salah satu pelabuhan di Indonesia/Net

Kondisi ekonomi nasional masih lesu akibat dihantam pandemi Covid-19 yang telah berlangsung hampir satu tahun lamanya. 


Pemerintah baik pusat dan daerah terus berupaya mengatas pandemi Covid-19 dengan tidak mengesampingkan aspek ekonomi agar kondisinya tidak kian memburuk. 

Salah satu upaya yang akan dilakukan pemerintah untuk menanggulangi dampak kondisi ini adalah mendorong peningkatan ekspor nonmigas. 

Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi menyebutkan, salah satu langkah yang bisa dilakukan untuk meningkatkan ekspor nonmigas ini adalah dengan mengoptimalkan perjanjian perdagangan internasional. 

"Untuk mencapai target pertumbuhan ekspor nonmigas, kita harus membuka pasar Indonesia dan berkolaborasi dengan berbagai negara melalui perjanjian dagang yang sudah ada," ujar Mendag seperti dikutip dari laman Kemendag, Jumat (12/2). 

"Hal itu sekaligus sebagai upaya meningkatkan nilai tambah masing-masing produk yang diekspor,” imbuhnya. 

Sejumlah perjanjian perdagangan yang dimaksud Mendag di antaranya Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IKCEPA), Indonesia-Pakistan Preferential Trade Agreement (IP-PTA).

Kemudian Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA), dan Indonesia-Chile Comprehensive Economic Partnership Agreement (IC-CEPA). 

"Serta perjanjian lain yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong ekspor produk lebih banyak," tandas Mendag. 

Mendag menerangkan, neraca perdagangan Indonesia pada 2020 mencatatkan surplus sebesar USD 21,7 miliar. Angka itu termasuk paling tinggi sejak tahun 2012. 

Namun demikian, ia menyebut masih ada yang perlu diwaspadai dari capaian tersebut. Pasalnya, surplus neraca perdagangan terjadi lantaran ada penurunan impor yang lebih tajam dari ekspornya. 

"Ada tiga negara yang menjadi sumber surplus neraca perdagangan terbesar Indonesia, yaitu dengan Amerika Serikat (surplus USD 11,13 miliar), India (surplus USD 6,47 miliar), dan Filipina (surplus USD 5,26 miliar),” ungkap Lutfi.

Sementara, lima produk ekspor dengan pertumbuhan positif tertinggi pada 2020/2019 (YoY) adalah besi baja sebesar 46,84 persen, perhiasan 24,21 persen, minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) 17,5 persen, furnitur 11,64 persen, dan alas kaki 8,97 persen. []