Relawan Jokowi: Tuntutan Penutupan TPL Jangan Asal Bunyi

Tigor Doris Sitorus/Net
Tigor Doris Sitorus/Net

Tuntutan sejumlah kalangan agar pemerintah menutup PT Toba Pulp Lestari (PT TPL) karena dinilai merusak lingkungan di kawasan Danau Toba, Sumatera Utara sepatutnya dilengkapi dengan kajian ilmiah yang komprehensif.


Demikian dikatakan Ketua Umum Pasukan Tetap Jokowi (Pak Tejo) Tigor Doris Sitorus dalam keterangannya, Selasa (22/6).

"Jangan bikin pernyataan yang  dangkal dan asal bunyi," kata Tigor.

Menurut Tigor, dalam kondisi pandemi seperti sekarang ini, pemerintah diharapkan menyelamatkan perusahaan investasi.

"Apalagi TPL memperkerjakan 20 ribu pegawai yang 90 persennya merupakan putera daerah," kata Tigor.

Tigor mengkhawatirkan apabila TPL akan berimbas ke perusahaan investasi lainnya di Indonesia.

"Bagaimana kalau perusahaan lain  sampai investor ngambek semua. Bisa celaka Indonesia," tegas Tigor.

Soal Eucalyptus yang merupakan bahan baku utama produksi pulp (bubur kertas) bagi PT TPL dianggap merusak ekosistem, Tigor menilai tidak ada alasan yang kuat.

Justru tanaman sawit lebih berbahaya dari Eucalyptus," kata Tigor.

Terkait wacana penutupan TPL, Tigor mendorong seluruh pihak lebih dulu melakukan kajian matang dan forum terbuka agar tidak ada yang dirugikan.

"Masukan saya masyarakat objektif dalam menyuarakan pendapatnya," demikian Tigor.

Belakangan beberapa pihak ramai menyerukan pemerintah membatalkan SK Menteri Kehutanan No.493/Kpts-II/92 tanggal 01 Juni 1992.Jo SK.307/MenLHK/Setjen/HPL.P/7/2020 tentang Pemberian Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri di desa Natumingka dan izin-izin lainnya yang mengatur operasi PT TPL. 

Bahkan tiga aktivis lingkungan melakukan aksi jalan kaki dari Toba, Sumatera Utara menuju Jakarta untuk bertemu dengan Presiden Joko Widodo. 

Abdon Nababan, dari Aliansi Gerak Tutup TPL mengatakan tiga aktivis itu mulai melakukan aksi jalan kaki sejak hari ini, Senin (14/6) pagi. Mereka diperkirakan akan tiba di Jakarta 40-50 hari mendatang.

Seruan penutupan juga disampaikan Ketua MPR RI Bambang Soesatyo. Ia menilai PT TPL pantas ditutup lantaran cenderung berdampak negatif ketimbang bermanfaat.

Meski mendorong penutupan PT TPL, Bamsoet mengingatkan agar nasib pekerjanya dapat diperhatikan.

Salah satu solusi yang ditawarkan adalah mengubah kawasan TPL dengan mengembangkan pariwisata dan pertanian modern di Kawasan Danau Toba. []