Revitalisasi TIM, Transformasi Menuju Pentas Kesenian Global  

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismai Marzuki (PKJ-TIM)/Ist   
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismai Marzuki (PKJ-TIM)/Ist  

PUSAT Kesenian Jakarta Taman Ismai Marzuki (PKJ-TIM) benar-benar berubah wajah. Ibarat gadis yang telah beranjak dewasa, penampilannya sudah sangat berbeda. Gadis itu sekarang telah tampil menawan dan menarik hati siapa pun.  Setelah direvitalisasi dengan biaya mencapai Rp1,4 triliun, kini TIM berwajah modern, megah, dan tentu saja menggoda.  

Revitalisasi ini merupakan buah dari proses yang terjadi empat tahun silam. Saat Taman Ismail Marzuki berulang tahun yang ke-50, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mencanangkan untuk melakukan revitalisasi pusat kegiatan seni ini.  Tahun berikutnya, pertengahan 2019, proyek revitalisasi ini dimulai.  

Proses revitalisasi atau pemugaran TIM dirancang dengan berangkat pada akar semangat budaya lokal yang dipadukan dengan konsep modernitas, keindahan, kenyamanan, dan keasrian lingkungan. Sehingga nantinya, pusat kegiatan seni di Jakarta ini diharapkan dapat menjadi ikon baru kota Jakarta.

Tidak hanya itu, revitalisasi Taman Ismail Marzuki diharapkan menjadikan tempat ini sebagai pusat aktivitas seni dunia. Bersamaan dengan itu, tempat ini juga tetap menjadi lahan bagi seniman domestik untuk berkreasi serta membuka ruang interaksi dengan para seniman dari berbagai belahan dunia lain.  

Tentu langkah itu tidaklah mudah. Tentangan pun sempat datang dari banyak pihak. Termasuk dari para seniman sendiri yang tumbuh dari tempat ini. Bagaimana pun, menurut mereka, melakukan revitalisasi tempat berkesenian dan berkebudayaan tidaklah sama dengan membuat bangunan layaknya mal atau pusat perbelanjaan. 

Satu hal yang juga menjadi perhatian adalah kesempatan bagi mereka. Maklum, selama ini kegiatan berkesenian berbeda misalnya dengan pertunjukan musik – yang begitu mudah untuk mendapatkan sponsor. 

Bukan kabar burung, untuk menggelar kegiatan seni mereka harus pontang-panting mendapatkan dana. Nah, dengan keadaan di masa lalu saja mereka sulit terlebih lagi dengan kondisi TIM yang telah direvitalisasi menjadi kawasan yang modern, tentulah jalan mereka tidaklah mudah.  

Saat menyaksikan pertunjukan perdana di Graha Bhakti Budaya – yang baru, Jumat silam, Gubernur Anies telah memberikan kepastian yang menyejukkan. Meski kini TIM telah berubah wajah menjadi lebih asri dan juga modern – layaknya tempat-tempat pertunjukan di kota-kota besar di dunia, bukan berarti TIM lantas berubah.

TIM tetaplah menjadi salah satu tempat berkesenian yang sama sekali tidak komersial. Gubernur Anies menekankan fasilitas seni yang dikelola oleh pemerintah melalui badan usaha milik daerah (BUMD) -- dalam hal ini Jakpro, bukan ditujukan untuk mencari keuntungan. Malah, pemerintah berkewajiban mengalokasikan anggaran yang cukup untuk mendukung aktivitas seni dan budaya.

Seperti halnya dengan BUMD di bidang transportasi, Anies memberi misal. BUMD itu tidak dituntut mencari keuntungan melainkan dituntut untuk mengubah kebiasaan masyarakat menggunakan transportasi pribadi. Demikian juga dengan perusahaan ini ditugaskan untuk meningkatkan kebermanfaatan kemajuan seni dan budaya. 

“Nah kita mulai sekarang, kota bangun fasilitasnya juga harus siapkan anggaran untuk itu. Harus ada alokasi anggarannya. Harus disiapkan subsidi sehingga kegiatan seni budaya itu menjadi kegiatan yang diurus oleh negara juga," ujarnya.

Anies memahami kesulitan para seniman dalam mencari sumber dana. Mereka para seniman harus membuat proposal kesana-kemari untuk mendapatkan biaya. Itu terjadi karena negara tidak mengalokasikan anggaran yang cukup untuk kegiatan seni.  

Revitalisasi dengan segala teknologi baru yang setara dengan ruang seni dan kebudayaan di kota global lainnya nyatanya juga berarti sebuah transformasi berikutnya dari TIM. Pada 1968 Gubernur Ali Sadikin mengubah kawasan yang semula berupa ruang rekreasi terbuka Taman Raden Saleh dan kebun binatang Jakarta menjadi pusat kegiatan seni di Jakarta.  Sebelumnya, para seniman menuangkan ekspresinya di Pasar Senen dan Balai Budaya Jakarta.

Nama Ismail Marzuki dipilih untuk menghormati karya-karyanya yang lebih dari 200 lagu. Karya-karya seniman asal Betawi itu di antaranya Berkibarlah Benderaku, Nyiur Melambai, Halo Halo Bandung dan Sepasang Mata Bola.  

Selanjutnya, Pemprov DKI menyediakan sarana, dana, dan fasilitas penunjang operasional TIM. Untuk pengelolaan, TIM diserahkan kepada seniman dan budayawan. Gubenur Ali Sadikin pun kemudian membentuk Badan Pembina Kebudayaan atau yang kini dikenal sebagai Dewan Kesenian Jakarta.   

Sejak itulah, selama setengah abad, Taman Ismail Marzuki telah menghasilkan banyak karya-karya pementasan dari seniman terbaik di negeri ini. Pergerakan kesenian dari berbagai generasi lahir di sini.  Diskusi-diskusi kebudayaan pun digelar.  Sejarah telah mencatat itu. 

Setengah abad berselang, peran negara kembali hadir melalui proses revitalisasi ini. Tidak saja membuat TIM bersolek menjadi lebih cantik, menawan, modern, tapi juga turun tangannya pemerintah provinsi DKI Jakarta untuk memberikan subsidi pada penyelenggaraan-penyelenggaraan kegiatan seni di Jakarta.

Semua itu adalah langkah baru untuk menjadikan TIM sebagai ekosistem budaya untuk Jakarta dan Indonesia yang menjadi wadah bagi para seniman ke tingkat panggung internasional. Di sini, TIM menjadi rumah para seniman menghasilkan karya kelas dunia  dan ruang pertunjukan Indonesia terbesar dunia. []

Penulis adalah pemerhati perkotaan