Rizki Sadig Mendorong Indonesia Jadi Mediator Konflik Rusia-Ukraina

Anggota Komisi I DPR RI Ahmad Rizki Sadig/Ist
Anggota Komisi I DPR RI Ahmad Rizki Sadig/Ist

Konflik Rusia-Ukraina masih belum menemukan titik terang. Dampak ketegangan kedua negara mulai dirasakan dalam skala global sehingga negara-negara lain harus memiliki kebijakan preventif untuk menghindari krisis. 


Anggota Komisi I DPR RI Ahmad Rizki Sadig menilai konflik Rusia-Ukraina tersebut akan menimbulkan krisis gas, minyak hingga pangan. 

"Inflasi juga menjadi ancaman yang harus segera dikendalikan," kata Rizki Sadig dalam diskusi bertajuk "Bagaimana Perkembangan Konflik Rusia Ukraina dan Dampaknya Bagi Indonesia" yang diselenggaran di platform Instagram (@rizkisadig), Rabu (27/7).

Legislator PAN ini juga mengatakan, dampak terhadap Indonesia juga mulai dirasakan, walaupun Indonesia tidak bergantung terhadap pasokan minyak dan gas dari Rusia. 

"Indonesia juga sudah merasakan dampak lainnya, seperti harga pangan dan nilai tukar dolar. Secara tidak langsung, konflik ini memengaruhi kebutuhan sehari-hari masyarakat Indonesia," kata Rizki.

Meski begitu, Ketua DPW PAN Jawa Timur ini menilai Pemerintah Indonesia lewat Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertahanan sudah melakukan upaya cepat dalam mencegah dampak perang yang hingga kini masih berlangsung. 

"Presiden Jokowi sudah menginstruksikan Menteri Perdagangan agar mengendalikan harga minyak dan pangan. Terbukti baru dua minggu menjabat, Mendag sudah melakukan langkah nyata yang membuat harga minyak semakin menurun," kata Rizki.

"Presiden juga memerintahkan Menhan untuk mempersiapkan lahan-lahan milik TNI guna membangun klaster-klaster pangan yang nantinya Indonesia memiliki kemandirian pangan yang apabila konflik Rusia dan Ukraina terus berlanjut, kita tidak terkena dampak yang signifikan," sambungnya.

Dalam kesempatan itu, Rizki juga mengutarakan optimismenya terhadap pemerintah yang dapat berperan sebagai mediator dalam konflik Rusia dan Ukraina lewat pertemuan G20 yang akan dilaksanakan di Indonesia pada November 2022.

"Indonesia memiliki kapasitas menjadi mediator dalam konflik ini, khususnya dalam momentum pertemuan G20 nanti. Dengan hadirnya perwakilan Rusia dan Ukraina di Indonesia, saya yakin Indonesia dapat mengoptimalkan perannya secara bebas aktif sesuai amanat konstitusi kita," kata Rizki.

Selain Rizki, acara diskusi ini dihadiri oleh Pengamat Militer ISESS, Khairul Fahmi dan Pelajar Indonesia yang sedang menempuh pendidikan magister di HSE University Rusia, Faiz Arsyad. []