Seharusnya Kita Berterima Kasih Atas Peringatan Sutiyoso

Mantan Kepala BIN Sutiyoso/Net
Mantan Kepala BIN Sutiyoso/Net

MINGGU lalu melalui sambutan spontanitas di hadapan umat Islam di Jakarta Islamic Center, Jakarta Utara, mantan Kepala BIN Sutiyoso mengungkapkan kegundahan sekaligus mengingatan adanya potensi bahaya serbuan TKA Tiongkok, dimana jumlahnya patut dicermati terkait urgensi akan fungsi pekerjaannya di Tanah Air ini. Suatu hal yang wajar secara internal sesama anak bangsa. 

Tak dinyana bahwa apa yang dikemukakan oleh Sutiyoso itu menuai 'kegerahan' di ruang publik medsos, khususnya dari kalangan etnis Tionghoa gegara tak terima dikaitkan dengan narasi 'menguasai' Indonesia oleh etnis China ini. Ada rasa ketersinggungan yang kurang menyelami makna kebangsaan atas  peringatan itu sendiri.

Alih-alih melakukan konfirmasi langsung atau dalam istilah Islami tabayyun, malah serta merta suara antipati dan tudingan rasisme meluncur begitu saja khususnya melalui ranah medsos oleh beberapa sosok politik Tionghoa, yang diulas pula oleh beberapa kalangan aktivis Tionghoa. 

Tercatat nama Charles Honoris, Grace Natalie, Paul Chang, Gusnadi termasuk juga penulis 'uneducated' pemakai kata-kata vulgar dan serampangan Zeng Wei Jian mengemukakan respons secara berlebihan dengan satu stigma: Sutiyoso rasis. Titik.

Tak ada yang lebih buruk dengan model 'pembunuhan  karakter' macam itu, selain melabeli rasis yang jelas-jelas hal haram bagi jejak seorang Sutiyoso yang telah melanglang buana  menjalankan tugas negara baik selaku perwira TNI, Gubernur maupun Kepala BIN. 

Tetapi beragam reaksi di kalangan komunitas Tionghoa Indonesia ini memperjelas gambaran bahwa kematangan sebagai anak bangsa negeri ini belum sepenuhnya teradaptif dalam jati dirinya. Kecenderungan Tionghoa beraroma Tiongkok lebih dominan ketimbang beraroma Indonesianya dalam reaksi berlebihan membela kehadiran TKA Tiongkok ini.

Upaya dramatisasi rasisisme peringatan Sutiyoso malah menunjukan kebenaran adanya kelompok Tionghoa yang masih belum menyadari makna ke-Indonesia-an sejatinya, malah rasa ke-Tiongkok-an yang lebih terasa tampil. Mentalitas seperti ini seharusnya menjadi introspeksi diri yang paling mendasar. 

Sutiyoso itu saudara sesama anak bangsa sendiri, sementara TKA itu tetaplah orang asing yang tidak lebih kita kenal daripadanya. 

Maka adalah patut menelisik lebih jauh apa yang dikemukakannya ketimbang menyembur umpatan-umpatan model Zeng Wei Jian yang melebar menyeret-nyeret Grace Natalie dkk secara vulgar dan lebih jauh menaruh bibit fitnah murahan. 

Jadi ada hikmah yang dapat dipetik bahwa apa yang disampaikan oleh Sutiyoso itu telah membuka mata mengidentifikasi masih adanya kelompok Tionghoa Indonesia yang gagal memahami apa itu rasisme dan nasionalisme.

Dalam konteks semua ini maka semua pihak yang tendensius termasuk Grace Natalie dan kawan-kawan juga Zeng Wei Jian yang sudah mengenal jiwa patriotisme Sutiyoso sejak dulu jangan lagi berpura-pura asing, dan justru kita patut berterima kasih atas peringatan yang disampaikan Sutiyoso itu sebagai wujud kewaspadaan nasional.[]

Penulis adalah pemerhati sosial politik