Selangkah Lagi Jakarta Jadi Kota Global

Aplikasi JAKI/Net
Aplikasi JAKI/Net

BAGAIMANA rasanya jika Anda mengadu ke Gubernur semudah melapor ke Ketua RT? Itulah yang terjadi di Jakarta sekarang, dengan aplikasi JAKI yang dimotori Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan jajaran Pemprov DKI Jakarta.

Aplikasi Jakarta Kini atau JAKI ini memungkinkan warga bisa mengadu dengan cepat, minta tolong dengan mudah, dan tentu saja, direspon instansi maupun aparat terkait dengan cepat pula.

Dikembangkan melalui Badan Layanan Umum Daerah Jakarta Smart City di bawah Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfotik) Provinsi DKI Jakarta, JAKI diproyeksikan menjadi city-super apps sekaligus one-stop service bagi warga Jakarta.

Aplikasi yang dikenalkan pada Town Hall Meeting, Jumat 27 September 2019, membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari warga dan mengintegrasikan seluruh layanan di Jakarta.

Kehandalan JAKI baru-baru ini diakui di kawasan ASEAN dengan meraih medali emas di ajang ASEAN ICT Awards (AICTA) 2021 untuk kategori Public Sector (Sektor Publik). 

Salah satu aplikasi andalan Jakarta sekaligus inovasi di kategori sektor publik ini berhasil memukau dewan juri yang terdiri dari 10 anggota masing-masing negara ASEAN, serta dua juri independen dari Jepang dan China. Final AICTA 2021 diselenggarakan pada 14-15 Desember 2021. Hasil final ajang ini diumumkan pada 28 Januari 2022 dan dirilis di laman https://aseanictaward.com/news.html

Bila ditelisik lebih jauh, Jakarta menjadi instansi pemerintahan yang pertama kali menyumbangkan medali emas untuk Indonesia di ajang AICTA sepanjang penyelenggaraannya. Perwakilan Indonesia sebelumnya yang tercatat pernah menjuarai AICTA yakni Smartcard for Frequent Traveler yang mendapat predikat gold pada AICTA 2013. Lalu, e-voting Pilkada meraih predikat silver pada AICTA 2018. 

Setelah delapan tahun penantian, Indonesia, tepatnya Jakarta, kembali menyabet medali emas melalui platform aplikasi JAKI. Pada final ajang AICTA 2021 ini, JAKI berhasil mengalahkan negara-negara unggulan seperti Singapura yang selalu mendominasi dan menjadi juara di ajang AICTA untuk kategori Sektor Publik. 

AICTA merupakan inisiatif dan proyek di bawah naungan ASEAN ICT Masterplan 2015, ASEAN ICT Masterplan 2020, serta ASEAN ICT Masterplan 2025. Proyek ini bertujuan untuk memberikan pengakuan atas pencapaian TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) terbaik di antara pengusaha serta organisasi di ASEAN. 

Selain itu, AICTA bertujuan menjadi tolok ukur keberhasilan dalam inovasi dan kreativitas, menawarkan peluang bisnis serta hubungan dagang, sehingga mengangkat kekuatan TIK dan kesadaran masyarakat, serta menyediakan platform untuk mempromosikan produk TIK ASEAN secara global.

Pertama kali diadakan di Filipina pada November 2012, AICTA telah berlangsung sembilan kali, dengan pengecualian pada 2020. Tahun ini, AICTA diadakan di Myanmar secara daring. 

Adapun enam kategori yang diperlombakan dalam ajang ini adalah Private Sector, Public Sector, Corporate Social Responsibility, Digital Content, Start-Up Company, dan Research and Development.

“Terlepas dari tantangan yang ditimbulkan oleh pandemi, saya melihat bahwa 95 tim dari semua negara anggota ASEAN berpartisipasi dalam acara kemenangan tahun ini,” ujar Menteri Transportasi dan Komunikasi Myanmar, Admiral Tin Aung San.

Biasanya, upacara pemberian pemenang diadakan selama jamuan makan malam dalam Pertemuan Menteri Tahunan. 

“Namun, karena wabah pandemi Covid-19, kami hanya dapat menyelenggarakan acara dengan sederhana secara virtual,” kata Admiral

Sementara itu, salah satu juri IdenTIK 2020 dan ASEAN ICT Awards 2021 Shita Laksmi mengatakan, sektor publik merupakan kategori yang menaungi inovasi teknologi informasi yang dilakukan oleh organisasi pemerintah untuk menyediakan layanan publik yang efisien. 

Sebelumnya, beberapa perwakilan negara lain pernah memenangkan kategori ini. Pada 2019, tiga peringkat teratas secara berurutan diraih oleh Road Tax (Laos), IMDA Lab on Wheels (Singapura), serta Parents Gateway (Singapura).

Selama gelaran AICTA, Indonesia belum pernah meraih emas untuk Sektor Publik. “Jadi, kemenangan JAKI di AICTA melawan negara ASEAN adalah bukti bahwa inovasi teknologi anak bangsa mampu bersaing di kancah internasional,” kata Shita. 

Aplikasi JAKI, Shita menambahkan, komprehensif dalam menyelesaikan banyak persoalan di sektor publik. Banyak layanan jadi lebih efektif dan efisien, sehingga memudahkan warga tanpa harus mengunduh banyak aplikasi.

Tentu saja, JAKI menempuh jalan panjang saat berjuang, bersaing, hingga meraih keberhasilan di AICTA 2021. Bermula sejak dua tahun lalu, JAKI terpilih sebagai karya terbaik kategori Public Sector (Sektor Publik) pada ajang IdenTIK 2020. Pencapaian tersebut mengantarkan JAKI menjadi wakil Indonesia untuk nominasi yang sama pada tingkat ASEAN di AICTA 2021. 

Setelah melewati babak penyisihan dan coaching, JAKI menjadi salah satu nominasi public sector yang lolos ke babak final, bersama QR Code System Used by Cambodian Government to Fight Against Covid-19 dari Kamboja dan HealthCerts dari Singapura. Di sektor lain, wakil Indonesia yang juga bersaing di AICTA 2021 di antaranya adalah Nodeflux (Private Sector, Gold Medal) dan Botika (Private Sector, Bronze Medal).

Karena itu, Indonesia dan tentu saja Anies beserta jajaran Pemprov DKI Jakarta patut berbangga atas raihan ini.  

“Kesuksesan JAKI tidak akan terwujud tanpa partisipasi dari kolaborator-kolaborator kami, seluruh jajaran Organisasi Perangkat Daerah, dan warga Jakarta yang terus berupaya membuat inovasi untuk menyediakan aksesibilitas layanan dan informasi publik melalui integrasi dan kolaborasi,” kata Anies.

Jakarta, melalui aplikasi ini, kini diperhitungkan di tingkat internasional sebagai kota yang serius dalam mengurusi layanan publiknya, menawarkan kecepatan, kemudahan, dan respon yang sigap dalam memenuhi kebutuhan warganya. Melalui JAKI, Jakarta selangkah lagi menjadi kota global, seperti yang dicita-citakan Anies Baswedan sendiri. []

Penulis adalah pemerhati sosial perkotaan