Skandal Suap Reklamasi, Ahok Disarankan Menyerahkan Diri


/>RMOL.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ditengarai sudah mengetahui percakapan telepon dan pesan singkat (SMS) antara Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dengan staf khususnya, Sunny Tanuwidjaja, sebelum kasus suap reklamasi Teluk Jakarta terungkap. Untuk itulah Ahok disarakan untuk menyerahkan diri ke KPK.

"Ahok menyerah saja, jangan ada lagi yang  dia tutup-tutupi. Sebaiknya Ahok mengingat-ingat apa saja percakapan telepon dan SMS-nya dengan Sunny selama beberapa bulan terakhir. KPK kan sudah sadap," kata pengamat kebijakan Publik Budgeting Metropolitan Watch (BMW), Amir Hamzah di Jakarta, Rabu (13/4).

Apalagi, kata Amir, dalam sebuah acara di salah satu stasiun televisi, seorang komisioner KPK mengaku tidak asing dengan nama Sunny.

"Saut bilang begitu, karena sudah tahu semua percakapan Ahok dan Sunny. Makanya, sebaiknya Ahok banyak-banyaklah ibadah, berdoa, menguatkan diri dan saling menguatkan dengan Sunny. Heran, anak magang kok dicekal KPK," cetus Amir.

Amir mengimbau agar Ahok segera menyerahkan diri saja ke KPK. Selain itu, ia minta Ahok agar membuka semua pihak yang terlibat korupsi reklamasi.

"Jadilah pihak yang memudahkan penuntasan kasus korupsi, Kalau Ahok cerdas cukup membaca bahasa tubuh KPK dengan mencekal Sunny. Itu artinya menantang eksekutif untuk menyerah, karena menurut Sunny pasti tersangka dan nyanyi," paparnya.‎

Dijelaskan Amir, anak magang itu biasanya menjadi notulensi atau memperbaiki absensi, bukan menjadi penghubung pengembang ke DPRD.

"Untuk pertama kali anak magang dicekal KPK. Pasti anak magang ini bukan orang sembarangan. Logika sederhananya, mana mungkin anak magang bertindak sendiri menjadi penghubung PT Agung Podomoro Land ke DPRD DKI," katanya.

KPK diketahui  sudah menetapkan tiga tersangka. Mereka adalah anggota DPRD DKI Jakarta Mohamad Sanusi, Presiden Direktur PT Agung Podomoro Land Ariesman Widjaja dan personal assistant di PT Agung Podomoro Land, Trinanda Prihantoro. [dka]