Tanah Penjahat

Kediaman Rocky Gerung di Bojong Koneng, Bogor/Ist
Kediaman Rocky Gerung di Bojong Koneng, Bogor/Ist

RAKSASA pengembang Sentul City, Bogor, Jawa Barat tiba-tiba saja menunjukan taringnya. Dengan memakai alat hukum bernama 'somasi', pengembang mengusik warga di sisi kawasan bukit dekat area Sentul City bernama Bojong Koneng. Khususnya kepada salah satu warga yang ditarget yaitu aktivis atau kritikus politik kondang, Rocky Gerung.


Kasus tersebut jelas bukan sekedar adu hak kepemilikan lahan tapi mempresentasikan penguasa tanah berjuta meter persegi ingin menyentil keluar pemilik tanah ratusan meter persegi dari wilayah kekuasaannya. Arogansi yang mirip operator pemegang kendali buldoser. 

Sentul City telah menjadi saksi bisu adanya perilaku tidak bersih dan terhormat layaknya pengusaha developer nasional yang memiliki integritas seperti almarhum Ciputra. Hal itu karena perbuatan kotor sang pemilik Kwee Swie Eng alias Cahyadi Kumala  ketika terbukti oleh KPK dalam kasus penyuapan tukar guling lahan kepada Bupati Bogor, Rahmat Yasin. Suatu catatan lembaran hitam perilaku yang sulit dilupakan. 

Bisa kita bayangkan bila ada kasus semacam itu yang terbongkar, maka bagaimana bila ternyata masih ada yang tidak terungkap? Mungkin saja di kasus yang selain menyerang Rocky Gerung juga ratusan warga lainnya yang dilabeli 'berdasi' oleh pihak Sentul City adalah suatu celah hukum yang mungkin dapat mengungkapkan petualangan lainnya dari mantan koruptor itu. 

Mungkin Swie Teng diawal bisnisnya memang bermain baik, sehat dan wajar. Tetapi setelah semakin membesar maka jiwa keserakahan melanda dirinya hingga berperilaku curang dan culas demi melanggengkan kejayaannya. Buah kasus hukumnya menunjukan hal itu. 

Sekarang dengan pengalaman pahitnya itu mungkin saja dia melihat peluang akses perlindungan ke penguasa negeri dengan turut serta melibas orang yang selama ini diketahui kerap bersuara keras dan pedas dalam mengkritisi berbagai kebijakan dan perilaku pemimpin negeri. 

Kebetulan Rocky Gerung tinggal tak jauh dari kawasan lahan Sentul City. Hal ini dapat diindikasikan dengan respon juru bicara Istana Ali Mochtar Ngabalin yang terang-terangan mendukung Sentul City berperkara dengan Rocky Gerung. 

Jadi analisa panjang kasus ini ke segmen politik 'kepentingan' tak bisa diabaikan begitu saja, karena Sentul City berkepentingan menghabisi para pemilik lahan 'berdasi'  yang juga disebut 'orang Jakarta' dimana ditengarai berjumlah ratusan di seputar pinggir lahan Sentul City yang diklaim sebagai miliknya.

Teori habisi warga yang berpengaruh lebih dahulu maka akan jauh lebih mudah membereskan warga 'kecil' atau tradisional berikutnya sering menyertai cara pembebasan (atau perampasan) lahan. Cara usang ini sebaiknya ditinggalkan dan berganti dengan cara yang jauh lebih elegan. 

Karena bila kasus ini terselesaikan semata-mata dengan cara kekerasan fisik maupun non fisik, maka meskipun sebuah kerajaan properti terbesar di Sentul akan berkibar untuk menyucikan nama pemiliknya tetapi kelak tetap akan ada suara bisik-bisik "itu kan tanah penjahat" Sssttt.[]

Adian Radiatus

Pemerhati masalah sosial dan politik