Trauma Lihat Wajah Terdakwa Pencabulan, Anak Down Syndrome Nangis di Ruang Sidang

Kuasa hukum anak down syndrome, Mourin/RMOLJakarta
Kuasa hukum anak down syndrome, Mourin/RMOLJakarta

Tangis HI (14) seorang anak down syndrome pecah di ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Jakarta Barat, Senin siang (26/9).


HI yang mengenakan kaus kuning langsung memeluk ibunya usai menghadiri persidangan lanjutan dengan agenda pemeriksaan saksi fakta dari pihak korban. 

"Jujur saya sekarang juga masih enggak tahu sih, tadi mungkin kayaknya agak kaget aja ya. Karena tivinya, dihadirkan via zoom ditaruhnya di belakang," kata kuasa hukum HI, Mourin. 

Dalam sidang tersebut, terdakwa kasus pencabulan bocah down syndrome BO dihadirkan melalui dalam jaringan (daring) dari balik layar televisi.

Sementara ibu korban, I (48) mengatakan, anaknya menangis karena masih trauma saat melihat muka terdakwa. 

"Iya (nangis), karena dia kan trauma jadinya begitu. Masih trauma," kata I. 

Adapun agenda persidangan hari ini mendengarkan keterangan dari saksi fakta korban. 

Di depan majelis hakim, terdakwa membantah melakukan pencabulan. Ia mengaku hanya mencubit paha HI saja. 

"Silahkan itu haknya terdakwa, tapi kita ada hasil visum," kata Mourin. 

Sedangkan kuasa hukum terdakwa, Kasril mengatakan, pembelaan adalah hak terdakwa dalam menjalani persidangan. 

"Pembelaan memang hak ya, karena ini ancaman pidananya di atas lima tahun," kata Kasril.

Terdakwa BO didakwa melanggar Pasal 82 ayat (1) jo Pasal 76E UU Perlindungan Anak.

HI diketahui menjadi korban pelecehan seksual di kawasan Taman Sari, Jakarta Barat pada Sabtu (14/6). []