Wahyu Gerindra: Berbahaya Kalau Stok Vaksin Sampai Kosong

Anggota DPRD DKI Jakarta Wahyu Dewanto/Ist
Anggota DPRD DKI Jakarta Wahyu Dewanto/Ist

Vaksinasi anti-virus Covid-19 di Indonesia yang masih naik-turun akan sangat mempengaruhi waktu Indonesia untuk mencapai kekebalan kolektif (herd immunity).


Mengutip catatan Our World in Data, rata-rata tujuh harian vaksinasi Covid-19 di Indonesia sempat di atas 1 juta dosis per hari selama dua hari yaitu 19 dan 20 Juli 2021. Namun sehari kemudian langsung turun lagi menjadi 671.041 dosis. Artinya, Indonesia kurang konsisten dalam menggeber vaksinasi, masih angin-anginan.

Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta Wahyu Dewanto memuji tingginya animo masyarakat mengikuti mengikuti vaksinasi Covid-19.

"Alhamdulillah permintaan melonjak. Jadi hampir seluruh rakyat Indonesia memahami pentingnya vaksin," kata Wahyu saat dihubungi, Selasa (27/7).

Kondisi seperti ini, menurut Wahyu, sepatutnya menjadi catatan khusus. Artinya catatan penting untuk pemerintah agar segera mendatangkan vaksin Covid-19 ke Tanah Air.

"Mumpung momentumnya saat ini gencar vaksinasi, permintaan juga makin banyak.  Jangan sampai ada kekosongan, ini bahaya," kata Wakil Ketua DPD Partai Gerindra DKI Jakarta ini.

Wahyu menekankan bahwa vaksin sangat berguna untuk membentengi tubuh dari serangan virus corona. 

Pasalnya, vaksin jika efektif akan membentuk sistem kebebalan tubuh yang lebih baik. Walau seseorang terinfeksi virus corona, risiko mengalami gejala berat bisa ditekan.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, stok vaksin Covid-19 di Indonesia saat ini hanya sekitar 22 juta dosis yang sudah tersebar di sejumlah provinsi maupun kabupaten/kota.

Budi Gunadi Sadikin mengatakan, 22 juta dosis vaksin itu merupakan sisa dari total vaksin Covid-19 siap digunakan yang sudah diterima Indonesia kurang lebih sebanyak 85 juta dosis, semetara 63 juta dosis lainnya telah terpakai.

Dengan perkiraan itu, Budi menilai 22 juta dosis vaksin hanya cukup tak sampai sebulan.

"Itu stok berapa lama? kira-kira stok tidak sampai satu bulan. Kalau saya merasa stok itu sebenarnya sudah stretch, karena produksi vaksin kita itu 1,5 bulan," kata Budi dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden, Senin (26/7).

Budi melanjutkan, meski Indonesia sudah kedatangan lebih dari 100 juta dosis vaksin, namun beberapa diantaranya merupakan vaksin bulk atau mentah yang perlu diolah kembali oleh PT Bio Farma (Persero).

Karena itulah, jumlah vaksin jadi akan berkurang sedikit dari vaksin bulk yang didatangkan sebelumnya.

Sebagaimana diketahui, saat ini Indonesia sudah memiliki sebanyak 152.907.880 dosis vaksin, baik dalam bentuk jadi maupun bulk, yang didatangkan dari perusahaan farmasi Sinovac, AstraZeneca, Sinopharm, dan Moderna.

"Itu sebabnya kenapa kita hanya punya 85 juta, karena sisanya 20 juta masih dalam proses di pabrik dibikin, dibuat quality assurance, baru nanti kita dapat bertahap setiap minggu," kata Budi. []