Ziarah Dilarang Tapi Wisata Diizinkan, Mujiyono: Kualat!

Ketua Komisi A DPRD DKI Jakarta, Mujiyono/lst
Ketua Komisi A DPRD DKI Jakarta, Mujiyono/lst

Kebijakan Pemprov DKI Jakarta yang meniadakan kegiatan ziarah selama libur lebaran Idul Fitri 1442 Hijriah menimbulkan pro-kontra.


Terlebih, pasca terjadinya kericuhan ratusan orang peziarah di TPU Tegal Alur, Jakarta Barat lantaran tidak diperbolehkan masuk petugas setempat.

Ketua komisi A DPRD DKI Jakarta, Mujiyono mengatakan, kebijakan ini seharusnya disosialisasikan sejak jauh-jauh hari agar tidak menimbulkan polemik. 

"Seandainya saja jauh hari, para peziarah bisa mendaftar lewat JAKI dengan menambah fitur pelayanan, sehingga dapat diatur jam kunjungan dan lebih mudah ngatur prokesnya," kata Mujiyono saat dikonfirmasi Kantor Berita RMOLJakarta, Sabtu (15/5). 

Menurut politisi Partai Demokrat itu, kegiatan ziarah dan mengirim doa mampu memenangkan hati sekaligus merupakan wisata rohani. 

Dengan berziarah juga akan membangkitkan motivasi untuk perbaiki diri karena mengingatkan akan datangnya kematian. 

"Ziarah itu ditempat terbuka dan luas dan tidak desak-desakan saat berdoa. Saat berdoa pun pakai masker tak dilarang," jelasnya. 

Ia pun menyayangkan keputusan Pemprov DKI Jakarta yang meniadakan kegiatan ziarah namun membuka lebar aktivitas wisata. Seperti yang terjadi di Taman Impian Jaya Ancol. 

"Ziarah dilarang Wisata diizinkan, kualat kalau kata saya. Semoga aja tidak muncul cluster baru wisata Ancol," pungkasnya. []